SULSELKITA_SULTRAKITA.COM, BONE — Di tengah kondisi udara yang tidak sehat akibat kabut yang menyelimuti Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, aktivitas pembakaran sampah dan kayu masih dikeluhkan warga. Asap yang ditimbulkan dinilai mengganggu kenyamanan sekaligus berpotensi memperburuk kualitas udara di wilayah tersebut.
Berdasarkan informasi Indeks Kualitas Udara (AQI) yang dicantumkan dalam laporan pada Rabu, 14 Oktober 2026, pukul 07.00 WITA, kualitas udara di Kabupaten Bone berada pada angka 118 dengan kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kondisi ini menjadi perhatian karena Pemerintah Kabupaten Bone sebelumnya telah menyosialisasikan imbauan penggunaan masker sebagai langkah antisipasi terhadap risiko gangguan pernapasan akibat kabut yang telah beberapa hari menyelimuti wilayah Bone.
Dinas terkait juga telah menginformasikan kondisi udara yang tidak sehat di sejumlah wilayah, termasuk di 27 kecamatan.
Namun, aktivitas pembakaran masih ditemukan di tengah masyarakat. Asap dari pembakaran sampah maupun kayu dikhawatirkan menambah pencemaran udara yang saat ini dirasakan warga.
Salah seorang warga, Adhy, mengungkapkan bahwa pembakaran sampah masih kerap dilakukan. Selain itu, ia menyoroti aktivitas salah satu usaha pembakaran kelapa di kawasan Bukaka, Kota Watampone, yang menggunakan kayu bakar untuk menghasilkan arang.
Menurutnya, asap dan bau dari aktivitas tersebut mengganggu kenyamanan warga di sekitarnya.
“Masih banyak yang suka bakar sampah di sini, kami terganggu bau dan asapnya, kami berhak hidup sehat dan bebas dari bahaya asap,” ujarnya.
Sementara itu Erni mengatakan ada warga yang membakar timbunan sampah di area masjid Nuru tijarah kompleks pasar sentral lama, sehingga menimbulkan kobaran api yang besar, dan hal tersebut sempat menimbulkan kepanikan warga.
“Iyya tadi malam ada yang membakar sampah di area masjid, ” pungkasnya.
Berisiko Picu Gangguan Kesehatan
Kualitas udara yang buruk dapat memicu berbagai gangguan kesehatan, seperti iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Paparan polusi udara juga dapat memperburuk kondisi penderita asma, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), serta penyakit jantung.
Kelompok sensitif, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih karena berisiko mengalami dampak kesehatan akibat paparan polusi udara.
Karena itu, masyarakat diharapkan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kualitas udara dengan tidak membakar sampah sembarangan serta mengurangi aktivitas pembakaran yang menghasilkan asap.
Warga juga berharap pemerintah dan instansi terkait memberikan perhatian terhadap aktivitas pembakaran di kawasan permukiman, termasuk usaha yang menggunakan kayu bakar untuk proses produksi.
Upaya menjaga kualitas udara membutuhkan kepedulian bersama. Di tengah kondisi udara yang tidak sehat, menghentikan pembakaran yang menimbulkan asap berlebihan menjadi salah satu langkah penting untuk melindungi kesehatan dan kenyamanan masyarakat. (*)






