SULSEL_SULTRAKITA.COM, WATAMPONE — Suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan menyelimuti pelaksanaan Upacara Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-117 di halaman Kantor Bupati Bone, Selasa (20/5).
Penjabat Sekretaris Daerah (Pj Sekda) Bone, Andi Saharuddin, bertindak sebagai Inspektur Upacara (Irup), mengingatkan pentingnya semangat kebangkitan ditengah tantangan zaman yang kian kompleks.
Hadir dalam kesempatan itu jajaran Forkopimda Kabupaten Bone, para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta camat se-Kabupaten Bone. Upacara berlangsung tertib dengan iringan alunan lagu kebangsaan yang menggugah semangat.
Dalam pidatonya, Andi Saharuddin membacakan amanat Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdig) RI yang berjudul “Menuju Kebangkitan Nasional yang Bersahaja, Berpihak, dan Berkelanjutan”. Pidato tersebut sarat dengan pesan mendalam tentang makna kebangkitan di era modern.
“Saudara-saudari sebangsa dan setanah air, hari ini kita tidak sekadar memperingati tanggal di kalender. Kita membuka kembali halaman sejarah yang ditulis dengan tinta perjuangan, persatuan, dan keberanian melawan penjajahan,” ujar Saharuddin dengan penuh penjiwaan.
Ditegaskannya, 117 tahun lalu, di tengah belenggu kolonialisme, lahir Budi Utomo sebagai simbol kebangkitan kesadaran bangsa. “Mereka membuktikan bahwa kemajuan hanya bisa diraih jika kita berani berdiri di atas kekuatan sendiri,” imbuhnya.
Namun, menurutnya, kebangkitan bukan sekadar romantisme masa lalu, tetapi tentang bagaimana kita menjawab tantangan ini dengan inovasi, kolaborasi, dan ketangguhan,”
“Kini, kita menghadapi tantangan baru: disrupsi teknologi, ketegangan geopolitik, krisis pangan, hingga ancaman kedaulatan digital,” tegasnya
Upacara ini menjadi pengingat bahwa nilai-nilai perjuangan para pendahulu harus terus dihidupkan dalam langkah nyata.
Peserta upacara pun terlihat antusias, dengan harapan agar semangat Harkitnas bisa menjadi pemacu pembangunan Bone yang lebih maju dan berdaulat.
Di akhir acara, rangkaian bunga diletakkan di Tugu Perjuangan sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan. Sebuah simbol bahwa api kebangkitan tak pernah padam, dari masa ke masa. (WRD)






