SULTRAKITA.COM, KENDARI – Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Halu Oleo (UHO) bergerak cepat menuju Akreditasi Unggul. Langkah konkretnya dengan merevisi kurikulum agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan sesuai instrumen LAMDIK 3.0.
Revisi kurikulum bertema “Integrasi Kurikulum OBE dengan Instrumen Akreditasi Unggul LAMDIK 3.0” digelar di salah satu hotel di Kota Kendari, Jumat (17/07/2026). Kegiatan ini menjadi pijakan mencetak lulusan yang tidak hanya kompeten sebagai pendidik, tetapi juga siap bersaing di industri.
Focus Group Discussion (FGD) tersebut dibuka secara resmi oleh Dekan FKIP UHO. Kegiatan menghadirkan pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari Pemerintah Provinsi Sultra, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Disnakertrans, BPKAD, hingga perwakilan perbankan BRI, BNI, Bank Muamalat, dan BTN.
Alumni, dosen, dan mahasiswa Jurusan Pendidikan Akuntansi FKIP UHO juga turut memberikan masukan.
Ketua Panitia, Dr. Nanik Hindaryatiningsih, S.E., M.Si, menegaskan pentingnya keterlibatan pemangku kepentingan.
“Penyusunan kurikulum perguruan tinggi tidak cukup hanya berdasarkan pertimbangan akademik internal. Kita harus memperhatikan kebutuhan pengguna lulusan, perkembangan profesi, kemajuan teknologi, dan perubahan karakteristik dunia kerja,” ujarnya.
Dalam FGD, peserta menyepakati sejumlah kompetensi yang wajib dimiliki lulusan.
Kompetensi teknis yang disorot meliputi pendidikan dan akuntansi, penguasaan teknologi, aplikasi akuntansi, perpajakan, perbankan, akuntansi syariah, serta analisis laporan keuangan.
Sementara soft skill yang ditekankan adalah komunikasi, kepemimpinan, integritas, kerja sama, pemecahan masalah, dan adaptasi.
Program magang dan pembelajaran berbasis praktik juga menjadi pembahasan utama. Tujuannya mempertemukan teori di kampus dengan praktik nyata di sekolah, instansi pemerintah, lembaga keuangan, perusahaan, dan organisasi masyarakat.
Dengan begitu, mahasiswa diharapkan memiliki pengalaman kerja, memahami budaya organisasi, dan mampu menerapkan ilmunya di situasi nyata.
“Hasil FGD ini akan menjadi bahan Jurusan Pendidikan Akuntansi FKIP UHO dalam menyempurnakan profil lulusan, capaian pembelajaran, struktur mata kuliah, bahan kajian, dan strategi pembelajaran,” jelas Dr.Nanik.
Sesi kedua kegiatan diisi pemaparan materi oleh Dr. Endang Sri Andayani, S.E., M.Si., Ak dari Universitas Negeri Malang. Ia menekankan bahwa pendekatan Outcome-Based Education (OBE) menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai orientasi utama.
Dalam OBE, semua proses pendidikan mulai dari kurikulum, pembelajaran, tugas, hingga asesmen diarahkan agar mahasiswa benar-benar mencapai kompetensi yang ditetapkan.
Menurut Dr. Endang, ada 6 aspek utama yang harus diintegrasikan prodi untuk meraih predikat Unggul.
Aspek pertama adalah dosen yang berkualitas dan kompeten. Dosen merupakan penggerak utama proses pendidikan sehingga perlu memiliki kualifikasi akademik, kompetensi pedagogik, kemampuan profesional, pengalaman penelitian, dan keahlian yang sesuai dengan mata kuliah yang diampu.
“Kualitas dosen berpengaruh terhadap mutu pembelajaran, kemampuan mahasiswa mencapai kompetensi, produktivitas penelitian, dan reputasi akademik program studi. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dosen perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, pelatihan, penelitian, publikasi, dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” ujarnya.
Aspek kedua adalah kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, dunia kerja, perkembangan ilmu pengetahuan, dan teknologi. Kurikulum harus ditinjau dan diperbarui secara berkala agar materi pembelajaran serta kompetensi lulusan tidak tertinggal dari perubahan lingkungan eksternal.
Aspek ketiga adalah pembelajaran berbasis OBE. Setiap mata kuliah harus memberikan kontribusi yang jelas terhadap pencapaian kompetensi lulusan. Metode pembelajaran dan asesmen juga harus dirancang untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, serta sikap mahasiswa secara objektif.
Aspek keempat adalah berjalannya Sistem Penjaminan Mutu Internal secara konsisten. Sistem tersebut diperlukan agar proses penetapan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan standar mutu dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Pelaksanaan penjaminan mutu tidak hanya dilakukan ketika menghadapi proses akreditasi. Penjaminan mutu harus menjadi budaya dalam pengelolaan jurusan atau program studi agar setiap kekurangan dapat diketahui, dievaluasi, dan ditindaklanjuti melalui program perbaikan.
Aspek kelima berkaitan dengan produktivitas akademik mahasiswa melalui penelitian dan publikasi ilmiah. Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, melakukan penelitian, menyusun karya ilmiah, mengikuti kegiatan akademik, dan memublikasikan hasil penelitiannya.
Aspek keenam adalah produktivitas penelitian dan publikasi dosen. Penelitian dan publikasi dosen mendukung pengembangan keilmuan, meningkatkan kualitas bahan ajar, memperkuat reputasi akademik, dan menunjukkan kontribusi program studi dalam menyelesaikan persoalan masyarakat.
Ketua Jurusan Pendidikan Akuntansi FKIP UHO, Dr. H. Ramly, M.Pd berharap lulusan ke depan mampu bersaing di dunia kerja, produktif dalam penelitian dan publikasi ilmiah, serta responsif terhadap kebutuhan sekolah, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ia berkomitmen menindaklanjuti hasil FGD melalui penyempurnaan dokumen kurikulum berbasis OBE.
“Revisi kurikulum ini bukan hanya untuk administrasi akreditasi. Ini upaya kami meningkatkan mutu pembelajaran dan menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif terhadap teknologi, profesional, dan berintegritas,” tegasnya.
Dengan kurikulum baru ini, Jurusan Pendidikan Akuntansi FKIP UHO menargetkan tidak hanya meraih Akreditasi Unggul LAMDIK 3.0, tetapi juga menjadi rujukan pendidikan akuntansi yang relevan dan berorientasi pada mutu lulusan. (rls)







