SULTRAKITA.COM, KOLAKA – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka berkolaborasi dengan SMA Negeri 1 Lalolae, terkait kegiatan penguatan kompetensi guru bertema Penguatan Kompetensi Guru dalam Merancang dan Mengimplementasikan Pembelajaran Mendalam yang Berpusat pada Peserta Didik, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di SMA Negeri 1 Lalolae tersebut menjadi salah satu upaya perguruan tinggi dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan, khususnya melalui penguatan kapasitas guru dalam merancang proses pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Kolaborasi ini mengangkat pentingnya transformasi pembelajaran dari pola yang lebih banyak menekankan penyampaian materi dan hafalan menuju proses belajar yang mendorong peserta didik memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta mampu menerapkannya dalam berbagai situasi.

Wakil Dekan Bidang Akademik FKIP USN Kolaka, Prof. Dr. Ruslin Hadanu, S.Pd., M.Si mengatakan, kegiatan kolaborasi pendidikan tersebut merupakan bagian dari implementasi Tridharma Perguruan Tinggi, yang meliputi pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk nyata pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kami ingin memastikan bahwa keberadaan perguruan tinggi tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa di lingkungan kampus, tetapi juga oleh masyarakat, termasuk para guru dan tenaga kependidikan di sekolah. Melalui kolaborasi ini, FKIP USN Kolaka berupaya berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pengembangan praktik pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini,” ujar Ruslin.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FKIP USN Kolaka, Dr. Takwa, S.Pd., M.Hum., mengatakan, kolaborasi ini menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah sekaligus mendorong peningkatan kualitas pendidikan.
“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut, tidak hanya memberikan manfaat bagi para guru, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa FKIP untuk mengenal lebih dekat praktik pendidikan di sekolah. Dengan demikian, sinergi kampus dan sekolah dapat terus memberikan kontribusi bagi kemajuan pendidikan,” ungkap Takwa.
Ketua Panitia, Nasarudin, S.Pd., M.Pd mengatakan, kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang penguatan kapasitas sekaligus berbagi praktik pembelajaran bagi para guru.
Menurutnya, pembelajaran mendalam tidak cukup hanya dipahami sebagai konsep, tetapi perlu diterjemahkan ke dalam perencanaan dan praktik pembelajaran di kelas.
“Guru perlu memiliki kemampuan merancang pengalaman belajar yang tidak hanya membuat peserta didik mengetahui materi, tetapi juga memahami alasan, mampu menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari, serta mengembangkan keterampilan melalui aktivitas belajar yang relevan. Karena itu, kegiatan ini diarahkan agar peserta memperoleh pemahaman yang dapat diterapkan dalam pembelajaran,” ungkap Nasaruddin.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan penguatan materi mengenai konsep pembelajaran mendalam (deep learning) dan keterkaitannya dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat (SDGs 4) tentang pendidikan berkualitas.
Narasumber kegiatan, Dr. Sarmadan, S.Pd., M.Pd., C.Ed., menjelaskan bahwa pembelajaran mendalam merupakan proses membangun pengetahuan, menghubungkan berbagai konsep, serta menerapkan pemahaman dalam konteks kehidupan nyata.
Ia menekankan tiga pilar penting dalam pembelajaran mendalam, yakni koneksi, kolaborasi, dan refleksi. Koneksi mengarahkan guru untuk mengaitkan materi dengan pengalaman dan lingkungan peserta didik. Kolaborasi mendorong peserta didik bekerja bersama dalam menyelesaikan persoalan, sedangkan refleksi membantu mereka mengenali pemahaman, keberhasilan, dan hal-hal yang masih perlu diperbaiki.
“Pembelajaran mendalam mengajak kita menggeser orientasi belajar dari sekadar mengetahui apa menjadi memahami bagaimana dan mengapa. Guru perlu menghadirkan pertanyaan pemantik, menghubungkan materi dengan persoalan nyata, serta memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkolaborasi dan merefleksikan proses belajarnya,” ungkap Sarmadan.
Selain itu, guru juga didorong untuk mengembangkan strategi pembelajaran melalui tiga langkah, yaitu merancang pertanyaan pemantik, melakukan kontekstualisasi materi, dan menghadirkan aktivitas berbasis proyek. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian pendukung pembelajaran, dengan tetap menempatkan proses berpikir dan keterlibatan peserta didik sebagai hal utama.
Kepala SMA Negeri 1 Lalolae, Fitrin, S.Pd., menyambut positif pelaksanaan kolaborasi pendidikan tersebut. Ia menilai kegiatan yang melibatkan perguruan tinggi dan sekolah menjadi kesempatan bagi guru untuk memperluas wawasan sekaligus memperbarui pendekatan pembelajaran sesuai dengan perkembangan kebutuhan pendidikan.
“Kami menyambut baik kolaborasi ini karena memberikan kesempatan kepada guru untuk memperoleh penguatan kompetensi dan pengalaman baru. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan ini saja, tetapi dapat diterapkan dalam proses pembelajaran sehingga memberikan manfaat bagi peserta didik,” ujar Fitrin.
Hal senada disampaikan salah seorang peserta, Surtin, S.Pd.I. Ia mengungkapkan bahwa penguatan kompetensi melalui kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pentingnya menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif dalam pembelajaran.
“Melalui kegiatan ini, kami semakin memahami bahwa pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi bagaimana peserta didik dapat terlibat aktif, berpikir kritis, bekerja sama, dan menghubungkan apa yang dipelajari dengan kehidupan sehari-hari. Materi yang diperoleh menjadi bekal bagi kami untuk melakukan perbaikan dalam pembelajaran di kelas,” ungkap Surtin.
Melalui kegiatan kolaborasi pendidikan ini, FKIP USN Kolaka dan SMA Negeri 1 Lalolae diharapkan dapat terus membangun sinergi dalam mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Penguatan kompetensi guru juga diharapkan menjadi langkah berkelanjutan untuk menghadirkan pendidikan yang inklusif, berkualitas, dan berpusat pada peserta didik.
Upaya tersebut sejalan dengan semangat SDGs 4, yakni mewujudkan pendidikan berkualitas yang inklusif dan merata serta memberikan kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua. (Hrn)






