SULSEL_SULTRAKITA.COM, WATAMPONE —Diduga ada unsur kesengajaan Bakar sampah jadi motif teror tetangga di pemukiman warga tepatnya di jalan Onta, Kelurahan Bukaka Kecamatan Tanete Riattang.
Munculnya dugaan unsur kesengajaan ini dilatarbelakangi adanya pembakaran sampah yang berulang di tenpat yang sama yang jelas-jelas sudah dimediasi oleh Pemerintah Daerah.
Dalam hal ini, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone turun memediasi tetangga yang bermasalah karena kasus pembakaran sampah yang dilaporkan warga yang diduga tidak diindahkan oleh tetangga yang sering membakar sampah.
Hasil dari mediasi yaitu pembakar sampah diminta agar membakar di tempat lain yang tidak berdekatan dengan rumah warga WD yang mengeluhkan pembakaran sampah yang sangat menganngu pernafasan.
Pihak DLH sudah meminta kepada tetangga yang membakar sampah tersebut untuk pindah ke tempat lain dan tidak membakar ditempat yang sudah dikeluhkan warga yaitu WD akibat polusi udara, bau menyengat yang dihasilkan oleh pembakaran sampah.
Belum lagi sisa hasil abu pembakaran yang terbawa angin dan bisa menyebar kemana-mana, dan semua itu bisa menganggu dan merusak kesehatan.
Setelah dimediasi pemilik lahan sempat memindahkan lokasi pembakaran sampah, namun kembali AT dam suaminya membakar sampah ditempat yang dilarang.
Alih-alih menjadi warga yang taat pada aturan yang sudah dianggap telah selesai dan menjadi solusi bersama, tetangga pembakar sampah seolah tidak takut dilaporkan atau diadukan lagi
Hal itu terbukti karena berkali-kali membakar di tempat yang sama, yaitu tempat yang sudah dilarang dan sudah dimediasi agar tidak terjadi pembakaran lagi ditempat tersebut.
Ketika dikonfirmasi pemilik lahan AC banyak berdalih, dengan alasan yang beragam, katanya tidak bisa menghandle tetangga yang dipercayakan mengurus lahannya, yaitu AT bersama suaminya.
Ia juga mengaku tindakan itu dilakukan oleh suami AT yang Ia anggap tidak normal.
Padahal, Ia bersama AT dan suaminya penah terlihat membakar sampah ditempat yang sudah dilarang sambil tertawa bersama.
Lain lagi dengan AT, sebelum dilaporkan ke Kepling, lurah dan DLH WD pernah memberitahukan kepada AT perihal pembakaran yang menganggu tersebut Namun saat AT diberitahukan, Ia berdalih melakukan hal tersebut atas suruhan AC.
Disini terlihat jelas ada kerancuan antara keterangan AC dan AT.
WD mengaku punya bukti rekaman suara yang menggambarkan perilaku AC saat dimintai penjelasan terkait pembakaran tersebut yang terkesan berubah-ubah.
Dan pembakaran sampah ini kembali terjadi pada tanggal 8 Agustua 2025 oleh AT, setelah mengetahui WD langsung melapor ke kepling lagi dan minta ada penindakan.
Saat itu kepling berjanji akan menyampaikan hal tersebut ke lurah Bukaka agar ada solusi dengan memanggil WD, AT dan AC ke Kelurahan dan mendengar penjelasan masing-masing pihak.
Namun hingga berita ini diturunkan belum ada Pemanggilan.
Disisi lain setelah dikonfirmasi kembali kepada AC, AC mengaku tidak mengetahui perihal pembakaran sampah dan berjanji akan menegur AT.
Saat AT dikonfirmasi ia berdalih membakar daun mangga WD yang jatuh ke lahan tersebut meski sudah tahu pasti, tidak dibolehkan membakar lagi di tempat tersebut.
Namun terlihat dari rekaman video, AT membakar daun tanaman yang masih hijau yang ada dilahan tersebut yang baru saja dipangkas.
Bahkan sebelum-sebelumnya yang mereka bakar berupa batang pohon besar, daun pisang yang masih muda, tanaman hijau, Dus, dan sampah daunnya sendiri terutama daun pohon sukun milik AC.
Hal inilah yang menunjukkan adanya dugaan kongkalikong antara AC dan AT.
“Ini mungkin dianggap sepele namun hal tersebut sudah saya alami sendiri kami mengalami sesak, batuk-batuk, mata perih dan berair. Asap dan bau menyengat yang sanggat menyiksa pernafasan dan abu sisa pembakaran kemana-mana saat terbawa angin. Kami meminta agar mereka diberikan tindakan tegas agar tidak berlaku semena-mena,” pungkasnya. (WRD)






