Indah Susanti (42) tak pernah menyangka rumput liar di pekarangan rumahnya akan menjadi pintu masuk menuju dunia baru, dunia yang menyehatkan, menguatkan ekonomi, dan menumbuhkan cinta pada alam. Bersama ibu-ibu desa lainnya, ia kini meramu harapan dalam seruput jamu herbal hasil dari pelatihan hijau yang digagas PT Vale Indonesia.
Bakri Usman, sultrakita.com
Warga Desa Puuorda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka itu mengenang awal mula perubahan yang dimulai tahun 2021. Kala itu, ia bergabung dalam pelatihan tanaman herbal dan pembuatan pupuk organik yang diadakan PT Vale Indonesia IGP Pomalaa. Niat awalnya sederhana: mencari cara membasmi rumput liar yang tumbuh tak terkendali di kebun.
“Waktu itu pupuk juga lagi langka. Saya pikir bisa dapat ilmu soal pengendalian rumput. Tapi yang saya dapat justru pelajaran menghargai kehidupan tanaman, cacing, semut, bahkan rumput yang dulu saya basmi dengan herbisida,” kenangnya.
Pelatihan yang berlangsung lima hari itu dilanjutkan dengan pendampingan intensif selama hampir tiga tahun. Indah tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati bersama puluhan ibu lainnya. Mereka belajar mengenali tanaman herbal, meraciknya, hingga mengemasnya menjadi produk siap jual seperti teh herbal dan jamu instan.
Diantara produk yang mereka hasilkan, bunga telang menjadi primadona. Warnanya yang biru keunguan, jika diseduh, memunculkan gradasi cantik yang memikat mata. Khasiatnya pun luar biasa.
“Yang paling banyak dicari itu dari bunga telang. Kalau untuk relaksasi, kami campur dengan serai dan jahe. Kalau rasanya terlalu pahit, bisa dicampur madu. Tapi ini aman, apalagi untuk yang tidak biasa minum jamu,” jelas Bu Indah sambil menunjukkan deretan kemasan ramuan herbal kering dalam kemasan.
Ia masih mengingat satu kejadian yang hingga kini menjadi peneguh keyakinannya pada ramuan herbal. Saat itu, seorang ibu di desanya datang dalam kondisi lemas, wajahnya pucat, tekanan darah melonjak tinggi. Hampir saja ia pingsan.
Ibu Indah segera meracik ramuan dari pegagan, seledri dan kumis kucing, tiga tanaman yang dikenal mampu membantu menurunkan tekanan darah.
Sebenarnya ramuan itu idealnya diminum satu gelas penuh, tapi si ibu hanya berani mencicipi seperempat gelas, karena tak kuat dengan rasa pahitnya. Hasilnya di luar dugaan. Malam itu juga, si ibu datang kembali, dengan wajah berbeda lebih segar, lebih tenang. “Saya belum pernah tidur senyaman itu,” katanya.
Ibu Indah hanya tersenyum haru. Ia tak menyangka tanaman yang selama ini tumbuh diam di pekarangan memiliki khasiat yang menakjubkan.
Dalam sebulan, Bu Indah bisa menjual hingga puluhan bungkus, terutama saat ada pameran atau pesanan dari luar kota yang datang melalui media sosial. Herbal kering ini dijual dengan harga bervariasi, mulai dari Rp20.000 hingga Rp35.000 per bungkus.
“PT Vale gencar mempromosikan herbal produksi kami ke berbagai event pameran. Hal tersebut tentu membawa dampak terhadap penjualan. Hasilnya lumayan,” katanya dengan mata berbinar.
“Dulu saya pikir, siapa mau beli daun-daun begitu. Ternyata banyak yang cari,” imbuhnya sambil tertawa.
Tak hanya Ibu Indah yang merasakan manfaat dari program herbal ini. Ibu Hj. Hajra (55), salah satu anggota kelompok lain di desa yang sama, mengaku bahwa hidupnya ikut berubah sejak mengenal dunia tanaman obat. Dulu, ia hanya memanfaatkan pekarangan untuk menanam bunga hias. Kini, sebagian besar lahannya ditanami jahe, kunyit, sambiloto, dan daun kelor.
“Awalnya saya ikut-ikut saja. Tapi waktu tahu hasilnya bisa dijual dan bisa dipakai sendiri, saya jadi semangat,” ujar Ibu Hajra.
Hal serupa dirasakan Ibu Sutinah (50). Ia adalah salah satu ibu yang aktif memproduksi herbal kering dalam kemasan. Dengan tangan terampil, ia mengeringkan daun-daun pilihan dan meraciknya jadi teh herbal siap seduh.
Bagi Ibu Hajra dan Ibu Sutinah, program ini bukan sekadar kegiatan ibu-ibu desa. Ini adalah jembatan menuju kemandirian. Mereka merasa dihargai, diberdayakan, dan diajak berpikir ke depan.
Manager External Relations IGP Pomalaa Hasmir mengatakan, PT Vale berkomitmen penuh terhadap prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance). Komitmen ini bukan sekadar kebijakan di atas kertas, melainkan diwujudkan dalam program-program nyata yang menyentuh kehidupan Masyarakat.
“Pengembangan kelompok herbal, yang tidak hanya menjadi sarana pemberdayaan ekonomi lokal tetapi juga mencerminkan kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan warisan budaya,” ujarnya.
Ia menambahkan, melalui pelatihan berbasis keterampilan, pendampingan usaha, dan penyediaan akses pasar, kelompok herbal diberdayakan untuk mengelola sumber daya alam secara bijak, mengolah tanaman obat menjadi produk bernilai tambah, serta membangun sistem usaha yang berkelanjutan.
Program herbal ini bukan hanya soal pemberdayaan ekonomi perempuan, tetapi juga bagian dari strategi dekarbonisasi. Dengan mendorong penggunaan pupuk organik dan pemanfaatan tanaman lokal, PT Vale membantu mengurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis yang berdampak buruk bagi tanah dan air. Inisiatif ini sejalan dengan prinsip ESG dan mendukung transisi menuju pertambangan yang lebih hijau dan berkelanjutan.
“Meski tambang belum berproduksi, PT Vale telah menjalankan berbagai program sosial, kesehatan, pendidikan dan peningkatan kapasitas ekonomi lokal. Hal ini mencerminkan bahwa keberlanjutan bukanlah tujuan akhir, melainkan prinsip yang dijalankan sejak langkah pertama,” tegasnya.
Dari pekarangan yang dulu dianggap tak berguna, kini tumbuh harapan. Bagi Bu Indah dan para ibu lainnya, ini bukan sekadar jamu melainkan ramuan perubahan. Di tengah industri tambang yang terus bertransformasi, suara perempuan desa menjadi bukti bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari akar rumput. (***)






