Inovasi Hijau PT Vale dan Warga Tabarano
Di Desa Tabarano, Kecamatan Wasuponda, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Setiap kali musim kemarau tiba, kebakaran lahan seringkali terjadi, api dengan cepat menjalar dan menghanguskan lahan masyarakat. Pemerintah desa harus mengeluarkan anggaran untuk memadamkannya, sementara masyarakat hanya bisa pasrah melihat ladang mereka berubah jadi abu.
Lingkaran masalah itu membuat desa seakan jalan di tempat. Lahan kering sulit diolah, perekonomian tak berkembang, status desa pun sebagai desa tertinggal.
Lahan yang dulunya hanyalah padang alang-alang kering yang mudah terbakar, kini memancarkan pesona alam yang begitu memukau. Hamparan pohon nanas dengan daun hijau menjulang, buah-buahnya mulai matang menjadikan kebun nanas Ponda’ta jadi magnet baru agrowisata di desa Tabarano.
Bakri Usman, sultrakita.com
Awalnya banyak yang mencibir. “Mau tanam nanas di lahan kritis? Mana bisa!” begitu kata sebagian warga. Meski demikian Kepala Desa Tabarano, Rimal Manuk Allo, sangat yakin akan keputusannya.
“Saya teringat dengan arti nama Wasuponda yang mengandung arti nanas diatas batu. Jadi secara kearifan lokal Wasuponda ini, pada awalnya banyak sekali nanas yang tumbuh di pemukiman warga, bahkan dijadi tanaman pagar,” ujarnya.
Berdasarkan keyakinan itulah Rimal sapaan akrab Rimal Manuk Allo, mencoba menjalin kerja sama dengan PT Vale Indonesia. Untuk bersama, mengubah bekas lahan tandus menjadi kawasan agrowisata nanas Ponda’ta.
“Kalau dulu, saat memasuki musim kemarau di tahun 2019 sampai tahun 2022, biasa terjadi tiga sampai empat kali kebakaran, membuat semua masyarakat resah, karena lahan ini sudah sangat dekat dengan pemukiman. Bahkan kami menyiapkan anggaran untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran,” jelasnya.
Menurutnya, desa Tabarano ini memiliki potensi sangat besar, karena berada di wilayah pegunungan, sehingga banyak hal yang dikelola. Salah satu potensi adalah agrowisata nanas.
Namun untuk mewujudkan hal tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, sebelumnya ia bersama dengan beberapa warga pernah mencoba menanam nanas. Bahkan waktu itu banyak yang pesimis tanaman itu akan berhasil.
“Mau tanam nanas di lahan kritis, Mana bisa. Apalagi ini dilakukan dengan modal nekat. Bahkan saya dapat julukan kades nekat,” kenangnya.
Sindiran yang ditujukan kepada dirinya dijadikan sebagai motivasi, dan tetap melanjutkan tekadnya untuk mengembangkan nanas, walaupun belum memiliki pengetahuan yang memadai.
“Kami tetap optimis. Jadi jangan heran nanas kami dulu sangat kuning, karena waktu itu belum ada pendampingan,” jelasnya.
Bak gayung bersambut, perjuangan yang dilakukan membuahkan hasil. Kini lahan tandus seluas 10 hektar yang sering terjadi kebakaran berubah menjadi lahan agrowisata nanas. Hal itu karena campur tangan dari PT Vale Indonesia.
“Saat itu usaha kami didengar oleh tim PT Vale Indonesia, sehingga ingin membantu desa kami. Bahkan saya menghubungi ibu Sainab tim PT Vale Indonesia, bisakah kami diberikan pendampingan. Alhamdulilah saat itu kami bersyukur, karena mendapat respon positif dari PT Vale,” ungkapnya.
Usai mendapat perhatian, pemerintah desa membuat MoU dengan masyarakat pemilik lahan terkait pemanfaatan lahan mereka sebagai agrowisata nanas.
“Kami membuatkan MoU dengan masyarakat pemilik lahan dengan kesepakatan bagi hasil. Aturan selanjutnya lahan tetap milik masyarakat. Sekian persen bagian masyarakat pemilik lahan dan sekian persen masuk ke desa,” ujarnya.
Setelah ada kerjasama, PT Vale Indonesia membentuk tim untuk melakukan penelitian, dan pemetaan wilayah. Jadi pemetaan dilakukan PT Vale Indonesia adalah membuat tiga wilayah pemetaan, agro industri perkebunan, agro peternakan dan agro wisata air.
“Dengan adanya kerjasama PT Vale Indonesia, kami awalnya dibantu dengan pengadaan bibit, setelah itu pendampingan pelatihan budidaya maupun pengolahan, sehingga saat ini kami dapat memberdayakan masyarakat,” jelasnya.
Berkat adanya kerjasama dengan PT Vale Indonesia, kini Desa Tabarano yang merupakan desa tertinggal berdasarkan indikator desa membangun (IDM) Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, kini berstatus sebagai desa Mandiri.
Sainab Husain Paragai, Senior Koordinator PTPM Livelihood Social Department & External Relation PT Vale Indonesia, menjadi saksi awal kelahiran kebun nanas Ponda’ta.
Menurutnya, program ini merupakan ide cemerlang dari Kepala desa dan masyarakat sendiri. “Mereka melihat fenomena lahan kritis yang hanya ditumbuhi ilalang dan mudah terbakar,” kenangnya.
Secara teoritis, kondisi tanah waktu itu sangat buruk. Hal itu karena, berdasarkan hasil penelitian kondisi tanah menunjukkan bahwa pH tanah di bawah angka 4, sangat asam. “Kondisi seperti ini membuat hampir tak ada tanaman produktif yang bisa tumbuh dengan baik, apalagi tanpa perlakuan khusus seperti pemupukan,” paparnya.
Ketika Kepala Desa menghubungi mereka untuk mendiskusikan ide ini, PT Vale pun ikut turun tangan. “PT Vale kemudian mendukung dengan kajian awal, membentuk kelompok tani, memberi pelatihan, dan menghadirkan tenaga ahli untuk mendampingi.
Berdasarkan hasil penelitian awal menunjukkan kondisi tanah yang sangat asam, sehingga harus dibantu dengan pemupukan organik. Menurut Sainab, pilihan menanam nanas itu bukan tanpa alasan. “Nanas dikenal sebagai tanaman yang tahan di lahan kering, tidak butuh banyak air, dan pemeliharaannya relatif mudah. Dari situlah kebun nanas Ponda’ta lahir,” jelasnya.
Tantangannya tidak berhenti di situ. Warga harus belajar cara menanam, jarak tanam antar rumpun, sampai bagaimana menjaga kelembaban tanah tanpa irigasi besar. PT Vale mendampingi lewat pelatihan, penyediaan bibit, hingga uji tanah berkala. Mereka juga memperkenalkan pupuk organik, sebuah inovasi sederhana yang bukan hanya ramah lingkungan, tetapi juga menekan biaya pupuk kimia.
Diatas lahan seluas 10 hektar, kini puluhan ribu rumpun nanas tumbuh subur. Saat ini tak kurang dari 30.000 rumpun nanas tumbuh di lahan yang dulunya tandus. “Sebelumnya pada tahun 2023, ditanami sebanyak 26.000 pohon nanas dan pada tahun 2025 ini meningkat menjadi 30.000 pohon. pH tanahpun mengalami perbaikan, yang awalnya dibawah 4 menjadi 6,5,” jelas Sainab.
Dampak Nyata Bagi Masyarakat
Program agrowisata Nanas Ponda’ta dampaknya terasa nyata bagi masyarakat. Yohanes Gusti, Ketua Kelompok Ponda’ta, menceritakan bagaimana mereka bekerja keras dengan pendampingan PT Vale menjaga agar tanaman tetap tumbuh sehat tanpa bergantung pada bahan kimia.
“Di sini kami memang diarahkan untuk menghasilkan nanas organik, jadi tidak boleh pakai pestisida. Semua harus manual. Rumput-rumput liar kami cabut dengan tangan, karena kalau pakai alat hasilnya tidak maksimal. Memang capek, tapi inilah tuntutan dari sistem organik,” tutur Yohanes, tersenyum meski terlihat lelah usai memeriksa rumpun nanas.
Bagi Yohanes dan kelompoknya, pilihan untuk tetap pada jalur organik adalah bagian dari tanggung jawab moral. Ia ingin memastikan bahwa nanas Ponda’ta bukan sekadar buah yang manis, tetapi juga aman bagi siapa saja yang mengonsumsinya.
“Jadi kalau nanti ada nanas Ponda’ta atau olahan turunan seperti sirup, selai, atau dodol, orang tidak perlu ragu. Semua murni, asli, organik. Tidak ada efek samping. Itu yang bikin kami bangga,” tambahnya.
Meski begitu, Yohanes tidak menutupi tantangan yang mereka hadapi. Proses manual sering kali menyita tenaga dan waktu. Namun, ia yakin cara ini justru memberi nilai plus bagi produk mereka. “Kalau orang lihat nanas dari Tabarano, mereka tahu ini beda. Ini hasil kerja keras, asli, dan sehat,” katanya mantap.
Bagi Yohanes dan lima anggotanya ditambah 12 tenaga cadangan dengan adanya agrowisata nanas Ponda’ta kini mereka dapat bekerja tetap di kebun. “Memang jumlah tenaga kerjanya sedikit, tapi cukup membantu mengurangi pengangguran dan memberi penghasilan baru bagi keluarga,” ungkapnya usai membersihkan lahan nanas.
Transformasi di Tabarano tidak berhenti pada kebun nanas. Desa kini berencana menyiapkan rumah produksi untuk mengolah nanas menjadi sirup, selai, hingga dodol dalam skala yang lebih besar. Upaya ini bukan hanya hilirisasi, tetapi juga memastikan nilai tambah desa. Di sekitar kebun, rencana pembangunan nursery juga sudah disusun agar kebutuhan bibit bisa dipenuhi sendiri.
Gilda, salah satu anggota kelompok pengelola produk turunan nanas binaan PT Vale mengungkapkan, bahwa dulu dirinya hanya membantu memanen nanas, kadang kerja kadang tidak.
“Sekarang saya bisa bantu mengelola pengiriman produk, bahkan kami mulai belajar cara pemasaran digital. Rasanya, kami punya masa depan,” kata Gilda.
Gilda bersyukur, hidupnya kini lebih baik dari sebelumnya. “Kami dulu tidak punya apa-apa. Sekarang, bukan hanya tanah yang berubah, tapi hidup kami juga. Kami bisa menanam, menjual, bahkan belajar mengelola hasil panen. Ini bukan sekadar proyek, tapi harapan yang nyata,” ujar ibu rumah tangga ini.
Inovasi dan Integrasi Agrowisata
Keberhasilan agrowisata Nanas Ponda’ta tidak berhenti disitu saja. Kini Pemerintah Desa terus berinovasi dengan mengintegrasikan lahan seluas enam hektar untuk penangkaran sapi dan kambing yang akan dibudidayakan menjadi pupuk organik.
“Kotoran ternak akan dijadikan pupuk organik, sementara sisa hasil pengolahan nanas bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Siklus tertutup ini diharapkan menjadikan Tabarano lebih mandiri dalam pangan sekaligus ramah lingkungan,” ujar Rimal.
Tidak hanya itu, selain mengembangkan agrowisata nanas Ponda’ta, masyarakat juga mengolah limbah industri tambang berupa Slag, residu dari proses pemurnian nikel, diolah menjadi paving block. Paving block tersebut sudah memenuhi standar mutu A, dengan kuat tekan lebih dari 40 MPa.
“Paving itu digunakan untuk memperkeras jalan menuju kebun. Jalur yang dulunya berlumpur kini berubah jadi setapak kokoh, mempermudah akses wisata dan transportasi hasil panen. Sampai saat ini, kami telah menerima donasi hampir 4 ton slag dari PT Vale. Bukti bahwa sisa tambang pun bisa bernilai jika dikelola dengan inovasi hijau,” jelasnya sambil menunjuk deretan paving block yang tertata rapi.
Rimal paham perjalanan ini masih panjang. “Kami ingin masyarakat semakin berdaya, berbudaya, dan berdaya saing. Kami tidak ingin berhenti di sini,” ujarnya.
Kisah Tabarano adalah contoh bagaimana pertambangan berkelanjutan bisa bekerja. Tidak hanya mengeksploitasi mineral, tetapi juga mengembalikan kehidupan bagi tanah, membuka ruang penghidupan baru bagi warga, dan memanfaatkan limbah dengan cara kreatif.
Perjuangan tak mengkhianati hasil, di ajang Asia Responsible Enterprise Awards (AREA) 2025 yang diselenggarakan di Bangkok pada bulan Juli 2025, kebun nanas Ponda’ta berhasil mengantarkan PT Vale meraih penghargaan bergengsi yakni Green Leadership dan Social Empowerment category.
Di jalan setapak yang diperkeras slag, langkah kaki warga kini terasa lebih ringan. Di kiri-kanan, rumpun nanas tumbuh subur, buah-buah kuning keemasan siap dipanen. Tabarano yang dulu identik dengan bara api dan kebakaran, kini menjadi wajah baru pertanian organik, agrowisata, dan inovasi hijau.
Bagi warga, perubahan ini bukan sekadar cerita tentang tanaman nanas atau jalan paving, melainkan bukti bahwa ketika komunitas, pemerintah desa, dan perusahaan tambang bersatu, tanah yang gersang pun bisa melahirkan harapan. Dari api yang membakar, lahirlah kebun nanas. Dari limbah tambang, terbentang jalan masa depan. Tabarano telah membuktikan pertambangan berkelanjutan bukan hanya teori, melainkan kenyataan yang mengubah hidup. (**)






