Menu

Mode Gelap

Feature ยท 25 Jan 2018 17:37 WITA

Sensasi Hujjatul Islam Farlianto Menjadi Saksi Sejarah Menyusuri Nusantara


 Sensasi Hujjatul Islam Farlianto Menjadi Saksi Sejarah Menyusuri Nusantara Perbesar

Perjalan panjang Hujjatul Islam Farlianto menapaki nusantara dimulai dari zona I di Pulau Mianggas, yang merupakan pulau paling Utara Indonesia, setelah itu bergerak menuju Sabang hingga ke Blitar.

sultrakita.com

Hujjatul Islam Farlianto merasakan betul sensasi menjelajahi nusantara lewat kirab pemuda. Apalagi perjalanan kirab pemuda nusantara 2017 dilakukan dengan berjalan kaki, megendarai kendaraan angkutan darat, mengarungi lautan menggunakan angkutan laut dan menggunakan pesawat udara. Kombinasi penggunaan alat transporasi disesuaikan kondisi geografi dan ketersediaan waktu.
Rute perjalanan kirab ini terbagi atas dua zona. Zona I yaitu Miangas bergerak menuju Sabang hingga ke Blitar. Zona II yang dimulai dari Kota Rote Ndao di NTT bergerak menuju Merauke dan berakhir di Blitar. Sehingga, Blitar menjadi titik akhir dari pelaksanaan kegiatan Kirab Pemuda 2017.

Selain berjelajah, ada banyak sekali kegiatan positif yang dilakukan peserta Kirab Pemuda dihampir 100 kota dan kabupaten yang ada di 34 provinsi di Indonesia. Antara lain ikrar kebangsaan pemuda untuk NKRI, napak tilas Kebhinekaan, pawai seni dan budaya pemuda, serta festival dan kompetisi film pendek pemuda. Kemudian, mereka juga mengikuti festival dan kompetisi band indie pemuda, pameran kreativitas pemuda, disertai talkshow, workshop dan Seminar. Ada pula temu komunitas pemuda kreatif, bakti sosial lingkungan pemuda, gerakan pemuda membaca kitab suci, hingga olahraga rekreasi pemuda, turut mereka lakukan.

“Perjalan pertama kami pasukan inti Kirab Pemuda zona I, ketika kami tiba di pulau Miangas, ratusan orang telah menyambut kami degan begitu meriahnya. Setelah itu, kami melakukan upacara pelepasan yang bertanda bahwa pak Menteri Imam Nahrawi telah melepas kami dari pulau tersebut, untuk melakukan perjalanan ke titik berikutnya. Namun setelah upacara selesai kami tidak langsung pulang, melainkan berkeliling sebentar. Dan kami melihat pemandagan yang luar biasa, lautnya yang indah, udara yang sejuk dan masih banyak lagi keindahan yang kami lihat disana, setelah kami berkeliling tibalah saatnya kami untuk berpamitan dan melanjutkan perjalanan ke titik singgah berikutnya yaitu Tanjung Selor Kalimantan Utara,” ujarnya.

Di Tanjung Selor, gerakan pemuda membaca kitab suci digaungkan, dimana beragam agama dikumpul dan membacakan kitab suci masing-masing di depan pemeluk agama lainnya. Kemudian perjalanan berlanjut di Tenggarong, Kalimantan Timur. “Setelah melakukan perjalanan udara dari Tanjung Selor ke Balikpapan, kami langsung menaiki bus menuju Tenggarong selama 3 jam. Setelah istirahat, besoknya kami melakukan pawai budaya sekaligus pameran, serta malamnya menonton band indie dan istirahat pada malam harinya. Besoknya kami melanjutkan dengan pemuda membaca kitab suci dan upacara penutupan, untuk melakukan perjalanan darat selama 20 jam menuju Sampit Kalimantan Selatan menggunakan bus,” terang Atul sapaan akrab Hujjatul Islam Farlianto.

Ada kegiatan yang berbeda dilakukan saat di Sampit. Di titik ini, mereka juga melakukan bakti sosial. “Usai dari Sampit, kami langsung melanjutkan perjalanan ke Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dengan kegiatan yang sama pada daerah yang telah disinggahi sebelumnya. Begitu juga di Ketapang, Kalimantan Barat. Nah, enam titik singgah telah dilewati saatnya menuju titik ketujuh, Batam, Kepulauan Riau. Saat tiba di Bandara, kami langsung disambut degan upacara adat. Saya ditunjuk untuk mewakilil teman-teman zona I, untuk duduk di depan mengikuti upacara adat. Setelah itu kami lanjut mengikuti upacara pembukaan serta pawai budaya. Pawai budayanya terasa sagat berbeda, karena dititik sebelumnya kami jalan berkilo-kilo untuk menggelorakan semangat persatuan, disini kami hanya jalan mengelilingi panggung. Terus kami diajak untuk berwisata ke studio pembuatan animasi dan pembutan film, keesokan harinya kami membaca kitab suci seperti biasa, melakukan upacara penutupan dan paginya kami bertolak ke Tanah Rencong, yaitu provinsi Aceh,” tuturnya.

Atul beserta peserta lainnya juga mengunjungi titik nol kilometer Indonesia, Sabang, setelah itu menuju Lhoukseumawe dan Deliserdang, Sumatra Utara. “Kemudian kami menuju Padang Panjang, Sumatra Barat, yang menjadi titik kesembilan. Disini kami tidak terlalu banyak kegiatan. Beberapa kegiatan kami yang lain diganti degan megunjungi destinasi pariwisata, salah satunya jam gadang yang terletak di Bukit Tinggi. Titik singgah ke 10 yang membuat kami takjub, ya kabupaten Regat, kabupaten yang di tengah-tengahnya terdapat Danau, yaitu Danau Raja. Danau yang kalau kemarau tak pernah kering dan kalau hujan danaunya tak pernah meluap. Danau ini menyimpan banyak misteri yang konon katanya danau ini adalah tempat permandian para raja,” katanya.

Perjalanan kemudian berlanjut ke Muarabungo, Jambi serta Ogan Hilir, Sumatra Selatan. “Ada yang unik di Ogan Hilir, dititik ini kami mendapatkan uang saku dari pak bupati Ogan Hilir, untuk bekal kami di titik-titik singgah berikutnya. Kemudian ke Toboali, Bangka Belitung, yang terdapat wisata pantai lascar pelangi dimana pantai dan sekolah yang ada disini adalah tempat pembuatan film yang pernah populer tahun 2008 lalu. Selanjutnya bertolak ke wilayah pengasingan presiden pertama, Bung Karno. Tulang Bawang Barat, Lampung, menjadi titik singgah terakhir di kepulauan Sumatra. Provinsi ini mempunyai adat istiadat yang begitu kental, dan disini ada Masjid yang begitu menarik perhatian karena tidak mempunyai kubah. Kegiatan kami berlangsung begitu cepat, tak terasa kami akan meyeberang ke titik singgah ke 16 dan memasuki pulau Jawa,” cetusnya.

Cilegon, Banten, menjadi titik singgah ke-16 dan titik singgah pertama di pulau Jawa. Titik singgah yang begitu memukau dengan keramaian masyarakat yang mengikuti kegiatan bersama. Apalagi ketika pawai budaya, ada beberapa orang yang memakai kostum adat tapi dimodifikasi dengan model kreatif.

“Memasuki titik ke-17 DKI Jakarta, merupakan salah satu titik singgah yang berkesan. Ketika tiba, kami dibawa berkeliling Jakarta menggunakan bus bertingkat, salah satunya megunjungi Monas. Dari titik 17 ke titik 18 Subang, Jawa Barat, menempuh perjalanan tujuh jam, disini kami juga melakukan kewajiban kami sebagai peserta inti kirab pemuda 2017, kemudian menuju Tegal, Jawa Tengah. Titik singgah ke-19 ini merupakan titik singgah yang berkesan, selain melakukan kegiatan seperti biasa, kami diundang di festival duren, dan menikmati duren sepuasnya. Selain itu, kami diajak menanam pohon dan melepaskan bibit ikan di salah satu danau yang ada disana, menanam padi memanen terong dan ketimun hingga menunggangi kerbau. Tak hanya itu, kami juga meyaksikan langsung bupati Tegal berwayang untuk menghibur para masyarakat. Hari terakhir kami di Tegal, kami diberi satu set alat minum teh dan teh poci oleh-oleh khas tegal, yang begitu nikmat sekali. Setelah dari Tegal kami menuju titik singgah yang terakhir,” ungkap anak kedua dari empat bersaudara ini.
Bantul, Yokyakarta, menjadi titik singgah yang ke-20 sebelum menuju acara puncak di Blitar, Jawa Timur. Di Bantul, Atul dan kawan-kawan diarak sapi menuju Pendopo, yang dimeriahkan oleh para peserta miss Bantul serta para OKP2.

“Nah, tibalah kami di Blitar, Jawa Timur. Inilah acara yang kami tunggu-tunggu, dimana pserta

kirab pemuda dari zona I dan II bertemu lagi untuk menggelorakan api kebhinekaan bersama-sama di Blitar. Disini kami sangat bahagia sekali karena keliling Blitar dengan komunitas motor, setelah itu dilanjutkan pawai dan langsung beristirahat untuk acara puncak yang didatangi pak Imam Narawi. Besok harinya acara puncak pun tiba, semua yang kami dapatkan telah kami tampilkan, dan bisa bertemu langsung degan pak Imam Nahrawi secara langsung, makan bersama dan peyerahan piagam dan foto bersama.

Acara puncak pun telah selesai kami laksanakan tapi tidak sampai disini, kami diberi tiga hari liburan di Jakarta. Dari tanggal 10-13 Desember 2017. Tiga hari itu kami manfaatkan sebaik-baiknya sebelum berpisah degan 73 orang terbaik, dari perwakilan provinsi dan OKP dan tanggal 13 itu pun tiba, dimana kami harus berpisah dan kembali ke daerah masing-masing. Saya bersama pasangan yang akan balik ke Sulawesi Tenggara, sangat sedih meniggalkan para saudara-saudara baru dari seluruh provinsi, tapi tidak ada kata selamat tinggal, yang ada hanya kata sampai berjumpa lagi saudara-saudaraku di seluruh provinsi di Indonesia tercinta,” tandasnya.

Berbekal pengalaman selama di perjalanan, Atul memetik banyak pelajaran. “Keindahan, kemajuan dan keberagaman suku, adat istiadat serta bahasa daerah yang saya lalui pada zona I, semakin meneguhkan hati saya akan arti dan pentingnya menjaga persaudaraan, toleransi beragama, persatuan dan kesatuan dalam menjaga keutuhan NKRI yang kita cintai ini sampai akhir zaman. Kegiatan ini akan terkenang selalu, karena melalui kegiatan ini saya mendapat keluarga baru dari berbagai suku dan agama yang b erasal dari berbagai daerah, yang merupakan utusan pemuda pemudi terbaik dari daerah masing-masing,” jelasnya.

Tak luput Atul berbesan kepada seluruh generasi muda dimanapun berada, khususnya generasi muda Sulawesi Tenggara agar bisa menjadi duta bangsa sebagai garda terdepan untuk menjaga kemurnian pancasila dalam berbangsa dan bernegara, serta menjadi generasi pemuda yang senantiasa menggelorakan persatuan dan kesatuan.

“Memang kita sadari dan saat ini sama-sama dirasaakan, bahwa upaya mempersatukan bangsa ini memang sulit. Untuk itu, jadikanlah musyawarah dan mufakat dengan nilai-nilai luhur bangsa kita, yaitu Pancasila dalam menyelesaikan segala masalah. Sadarilah bahwa pertahan negara bukanlah semata-mata tugas TNI, tapi merupakan tanggung jawab seluruh individu anak bangsa. Kirab pemuda nusantara ini agar kiranya dijadikan perekat kebhinekaan dalam rangka menjaga persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Terakhir yang bisa saya tekankan sebagai pemuda, dalam menyikapi kehidupan berbangsa dan bernegara kekinian, jaganlah merasa pandai tapi sebaliknya pandailah merasa,” pesan anak dari pasangan Eddy Farman dan Hasni Yuliati. (tamat)

Artikel ini telah dibaca 12 kali

Baca Lainnya

Dariono, Pemuda di Balik Perjuangan Suplai Air Bersih di 11 Desa

15 September 2020 - 08:28 WITA

Trending di Feature
error: Content is protected !!