Menu

Mode Gelap

Terbaru · 10 Nov 2017 18:30

Petaka Pasca Tambang di Wilayah Pesisir Kolaka


Petaka Pasca Tambang di Wilayah Pesisir Kolaka Perbesar

Waktu baru menunjukkan pukul 09.30 Wita, namun sinar matahari sudah terasa menyengat seakan menembus kulit. Tapi langkah kaki tetap bersemangat menyusuri pesisir desa Hakatutobu, kecamatan Kolaka, kabupaten Kolaka, Sultra. Hakatutobu yang bermakna Akar Serumpun, dulunya sangat terkenal dengan hasil teripang, namun kini punah “ditelan” limbah tambang nikel.

Tim Redaksi, Kolaka

Aktivitas nelayan di Kampung Baru Desa Hakatutobu saat itu agak lengang. Perahu kecil berkapasitas dua orang hanya tertambat di kolong rumah. Anak-anak kecil berenang dalam air laut yang berwarna kemerahan.

Dari kejauhan salah seorang nelayan Bustang (29), duduk termenung memandang air laut di bawah rumah panggungnya di pesisir Desa Hakatutobu. Bertahun-tahun sudah nasibnya keruh, seolah mengikuti keruhnya laut di hadapannya itu.

Namun, keramahan tetap ditunjukkan Bustang saat tim redaksi SultraKita.com menghampirinya. Setelah berkenalan, sedikit demi sedikit Bustang mulai menceritakan problem yang dialami warga Hakatutobu setelah maraknya tambang nikel beroperasi di wilayahnya.

Saat penambangan nikel mulai marak satu dekade lalu di Desa Hakatutobu, warga bak kehilangan arah. Teripang dan rumput laut yang menjadi andalan penghasilan warga pergi menjauh. Setelah mengeruk kekayaan desa, perusahaan tambang hengkang dan meninggalkan dampaknya.

Baca juga :   20 Tahun Partai Kebangkitan Bangsa : Membumikan Visi Politik Rahmatan Lil alamin

Bagi Bustang, melaut kini suatu kemewahan. Untuk menangkap ikan, ia harus berlayar hingga Teluk Bone, sekitar enam jam perjalanan dari desanya. Butuh biaya minimal Rp400 ribu untuk membeli bahan bakar dan perbekalan. Tak jarang Bustang merugi karena ikan yang diperoleh tidak sebanding dengan biaya melaut. Karena itu, diam di rumah pun menjadi pilihan rasional.

“Sekarang kalau mencari ikan harus jauh karena laut di sekitar sini sudah tercemar tambang nikel,” ujarnya.

Air kemerahan di pesisir desa itu warnanya makin pekat ketika teraduk. Lumpur sedalam sekitar 50 sentimeter juga mengendap di dasarnya.

Di sekitar pesisir Hakatutobu, ada empat dermaga (jetty) yang menghubungkan tempat penampungan bijih nikel (tanah merah bercampur bebatuan) dengan tongkang. Material itu dikeruk dari perbukitan yang menyisakan lubang-lubang berkedalaman lebih dari lima meter.

Ketika hujan datang, tanah dari lokasi tambang merembes menjadi sedimen di pesisir.
Keterangan Bustang mengonfirmasi, sejak saat itu biota laut seperti ikan dan teripang, menjauh dari pesisir. Produksi teripang di Pomalaa, sesuai data Dinas Kelautan dan Perikanan Kolaka, mencapai 39 ton pada 2006 dan anjlok menjadi 13 ton pada 2014.

Baca juga :   Arhawi - Hardin La Omo Bakal diusung 7 Parpol

Padahal, teripang merupakan komoditas andalan warga karena harganya bisa mencapai Rp1,3 juta perkilogram dalam kondisi kering. Ini jauh di atas harga rumput laut yang tengah dibudidayakan nelayan.

Bahkan pada 1982, Desa Hakatutobu menjadi sentra budidaya teripang dan rumput laut. Ketika itu, air masih sangat jernih. Saking beningnya, warga setempat kerap menggambarkannya dengan ungkapan “jarum jatuh saja kelihatan”. Laut pun menjadi sumber penghidupan mayoritas dari seribu lebih warga desa.

“Sekarang saja kadang rumput laut gagal panen, karena terkena penyakit akibat air laut tercemar. Kalau pun juga bisa dipanen, rumput lautnya kerdil,” bebernya.

Menurut Sekretaris Desa Hakatutobu Ruslan Gafur, awalnya mereka menolak tambang. “Namun, mulai 2008, semakin banyak penambangan. Akhirnya, warga pasrah dengan beberapa kesepakatan, salah satunya penambangan tidak merusak pesisir. Tapi kesepakatan hanya sebatas janji. Kita lihat sendiri mi itu kondisinya (pesisir Hakakutobu, red). Untung bukan musim hujan, tapi kalau kita datang pas musim hujan, parah sekali air laut, karena air yang dari gunung bercampur lumpur masuk ke laut,” bebernya.

Baca juga :   HALO, Membangun Wakatobi Sebagai Kawasan Ekowisata Dunia

Ironisnya, saat tambang nikel marak, banyak warga yang memilih menjual perahu mereka dan mengadu nasip bekerja di wilayah tambang, dengan pengharapan penghasilan yang lebih besar ketimbang melaut. “Ketika tambang tutup, mereka (warga, red) kebingungan. Bagaimana tidak, perahu yang biasa mereka gunakan untuk menangkap ikan dan hasil laut lainnya sudah tidak ada. Sementara uang yang dikumpulkan dari hasil berkerja di perusahaan tambang sudah tidak ada lagi. Akhirnya mereka kerja serabutan sambil mengumpulkan uang untuk bisa kembali memiliki perahu,” paparnya.

Ibarat nasi sudah menjadi bubur. Laut di wilayah Hakakutobu sudah tercemar dan tidak bisa lagi diandalkan. (***)

Artikel ini telah dibaca 238 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

PLN dan ANTAM Perkuat Sinergi Jaga Keandalan Listrik

12 Mei 2026 - 11:45

PT Vale Perkuat Hilirisasi Hijau dan Ekonomi Rakyat di HUT ke-62 Sulawesi Tenggara

26 April 2026 - 11:39

Hari Bumi 2026, PT Vale Tanam Pohon dan Gaungkan Hemat Energi

22 April 2026 - 19:50

Kampanye Narasi Keberlanjutan, PT Vale Tegaskan Komitmen Good Mining Practices dan Keterbukaan Informasi Lewat Uji Kompetensi Wartawan

3 Februari 2026 - 21:13

PT Vale IGP Pomalaa Dorong Nilai Tambah Kakao Melalui Pelatihan Pengolahan di Desa Silea

2 Oktober 2025 - 12:02

Meriahkan HUT RI, Dispora Kolaka Gelar Lomba Tarik Tambang

14 Agustus 2025 - 19:21

Trending di Berita Utama