SULTRAKITA.COM, Kolaka – PT ANTAM Tbk UBP Nikel Kolaka bersama masyarakat dan mitra kerja menyatu dalam semangat hijau yang membara. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025, ANTAM tak hanya menanam pohon, mereka menanam harapan.
Dimulai 12 Juni, di kawasan bekas lahan yang biasa digunakan masyarakat untuk pembuangan sampah di IUP ANTAM, sebanyak 144 pohon Multi Purpose Tree Species (MPTS) menghijaukan lahan 3.000 meter persegi. Jenis tanaman buah itu dirancang bukan sekadar mempercantik alam, tapi menjadi oase pangan alami bagi primata endemik Sulawesi, Monyet Digo (primate endemik yang sering dijumpai di area operasi PT ANTAM Kolaka).
“Ini adalah upaya kami menjaga harmoni antara operasi tambang dan kehidupan liar yang menyertainya,” ujar Muhidin, General Manager ANTAM UBP Nikel Kolaka.
Keesokan harinya, 80.000 pohon mangrove ditanam. Ini adalah kelanjutan dari warisan hijau yang telah dimulai sejak 2001, menjadikan total mangrove yang ditanam mencapai 1.075.000 pohon. Di balik angka itu, berdiri Karang Taruna desa-desa di Pomalaa yang selama puluhan tahun menjadi mitra menjaga pesisir tetap hidup dan produktif.
ANTAM UBPN Kolaka berkerjasama dengan Karang Taruna desa yang ada di kecamatan Pomalaa untuk kegiatan penanaman, penyulaman, pemeliharaan dan penanaman mangroves. Kerjasama yang sudah berjalan selama puluhan tahun ini merupakan salah satu kunci keberhasilan kegiatan reklamasi revegetasi yang dilakukan,” kata Muhiddin.
Tak berhenti di sana, ANTAM juga terus memperluas cakupan reklamasi revegetasi area pascatambang. Target tahun ini mencakup 30 hektare atau sekitar 48.000 pohon, dengan realisasi hingga Mei mencapai lebih dari 62 persen.
Dan tahun ini, sejarah baru akan ditorehkan, Sulawesi Tenggara akan memiliki jembatan satwa pertamanya. Sebuah struktur yang dirancang khusus untuk memfasilitasi pergerakan satwa liar dengan aman di tengah dinamika pembangunan.
Seakan belum cukup, ANTAM juga merancang aksi bersih-bersih laut (Coastal & Seabed Cleanup), transplantasi terumbu karang, dan kampanye edukasi pemilahan sampah domestik.
Semua langkah ini bukan sekadar selebrasi tahunan, ini adalah upaya konsisten menjadikan Kolaka bukan hanya pusat tambang, tapi juga episentrum pelestarian lingkungan. (bak)






