Di sebuah bengkel kayu sederhana di Kelurahan Lamekongga, Kecamatan Wundulako, Kabupaten Kolaka, suara ketukan palu dan gesekan gergaji kembali terdengar nyaring. Syaripuddin (54), seorang tukang kayu yang sempat kehilangan penglihatannya akibat katarak, kini kembali bekerja dengan semangat yang menyala. Senyumnya merekah, bukan hanya karena kayu-kayu yang kembali bisa ia ukur dengan presisi, tetapi karena harapan yang telah kembali menyala berkat operasi katarak gratis dari PT Vale Indonesia IGP Pomalaa.
Oleh Bakri Usman – sultrakita.com
Tujuh tahun lalu, hidup Syaripuddin mulai diselimuti kabut. Penglihatannya yang semula tajam perlahan memudar. Dunia menjadi samar, wajah orang-orang terdekatnya tak lagi jelas dan malam terasa gelap meski lampu menyala. Sebagai tukang kayu, kehilangan penglihatan bukan sekadar tantangan, itu ancaman terhadap mata pencaharian dan keselamatan.
“Dulu, jarak satu meter saja sudah tidak jelas. Seperti hidup dalam bayangan,” ujarnya lirih.
Sebelumnya Syaripuddin sempat menjalani operasi katarak di mata kirinya menggunakan BPJS Mandiri sebelum pandemi Covid-19. Meski operasi itu berhasil, prosesnya melelahkan, antrean panjang, proses administrasi dan biaya iuran bulanan. Ia harus mengurus semuanya sendiri dan di tengah kondisi ekonomi yang tidak stabil, perjuangan itu nyaris membuatnya menyerah.
“Saya bersyukur bisa operasi waktu itu, tapi jujur saja, prosesnya bikin saya hampir menyerah,” kenangnya.
Namun, dibalik kelelahannya itu, secercah harapan muncul dari arah yang tak terduga. PT Vale Indonesia IGP Pomalaa, melalui program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM), mengadakan operasi katarak gratis bagi warga Kolaka. Meski perusahaan belum memasuki tahap operasional, komitmen sosialnya sudah berjalan. Program ini bukan sekadar kegiatan CSR biasa, melainkan bagian dari filosofi perusahaan yang menempatkan keberlanjutan sebagai prinsip sejak awal.
Bermodal KTP, KK dan surat keterangan dari kelurahan, ia mendaftar dan menjadi satu dari 20 peserta yang lolos screening.
“Saya pikir, mana mungkin gratis? Tapi saya coba daftar saja dan ternyata benar-benar tidak dipungut biaya,” kata Syaripuddin dengan mata berbinar.
Operasi dilakukan di Klinik Mata Kolaka, dan hanya dalam hitungan hari, sehingga membuat dunianya yang sempat gelap kembali terang.
“Operasinya singkat, tapi dampaknya luar biasa. Saat perban dibuka, saya bisa melihat dengan jelas lagi. Saya sangat bahagia,” ujarnya penuh haru.
Yang membuat program ini istimewa bukan hanya operasi gratisnya, tetapi perhatian pasca operasi yang menyeluruh. Kontrol rutin, pemeriksaan teliti dan saran perawatan mandiri diberikan tanpa biaya tambahan. Pendampingan intensif dari tim medis memastikan bahwa pemulihan berjalan optimal.
“Saya tidak hanya dibantu saat operasi, tapi juga setelahnya. Dokter tetap memantau kondisi saya dan semuanya gratis. Ini benar-benar luar biasa,” ungkapnya.
Bagi Syaripuddin, program ini bukan sekadar bantuan medis. Ini adalah bukti bahwa suara komunitas didengar dan dijawab dengan aksi nyata. Ia kini menjadi duta informal, mengajak tetangga-tetangganya untuk percaya dan ikut serta jika program serupa kembali digelar.
“Kalau program seperti ini ada lagi, saya sendiri yang akan ajak tetangga-tetangga saya untuk ikut. Karena saya sudah merasakan manfaatnya,” ujarnya penuh semangat.
Kini, Syaripuddin kembali bekerja dengan penuh percaya diri. Ketelitian dan presisi yang sempat hilang telah kembali. Ia tak hanya merasakan manfaat medis, tetapi juga kepedulian yang menyentuh hati. Pekerjaan sebagai tukang kayu yang sempat terhenti kini kembali menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.
“Terima kasih PT Vale. Penglihatan saya kembali normal tanpa mengeluarkan biaya sepeser pun. Semoga ke depan ada lagi operasi katarak gratis, supaya lebih banyak penderita yang bisa dibantu,” katanya sambil tersenyum.
Head of Project IGP Pomalaa, Mohammad Rifai, menyebut program ini sebagai bagian dari komitmen PT Vale terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin ketiga: Good Health and Well being.
“Keberlanjutan adalah bagian dari budaya perusahaan, bukan sekadar inisiatif,” tegas Rifai.
Lebih lanjut Rifai menjelaskan, bahwa sebagai bagian dari komitmen terhadap prinsip ESG, pihaknya telah merancang empat program utama yang saling melengkapi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan di tingkat komunitas.
“Program pertama adalah Sustainable Medical Health, yang tidak hanya berfokus pada aspek mitigatif dalam layanan kesehatan, tetapi juga mengedepankan pendekatan preventif melalui edukasi dan pemeriksaan berkala. Selanjutnya, melalui Wish Management, kami membuka ruang partisipatif bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi mereka, sehingga program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan dan harapan lokal,” jelasnya.
“Di sisi infrastruktur, kami menjalankan program Revitalisasi Infrastruktur yang bertujuan memperbaiki dan meningkatkan fasilitas publik seperti sarana pendidikan, kesehatan, serta akses air bersih dan sanitasi. Terakhir, melalui Community Development, kami memperkuat kapasitas masyarakat dengan pelatihan kewirausahaan, pendampingan usaha kecil, dan pengembangan ekonomi lokal yang inklusif. Keempat program ini dirancang secara terpadu untuk menciptakan dampak jangka panjang yang berkelanjutan,” imbuhnya.
Meski tambang belum berproduksi, PT Vale telah menjalankan berbagai program sosial, kesehatan, pendidikan dan peningkatan kapasitas ekonomi lokal. Operasi katarak gratis hanyalah satu contoh nyata bahwa keberadaan industri bisa membawa manfaat langsung sejak awal. Pendekatan ini mencerminkan bahwa keberlanjutan bukanlah tujuan akhir, melainkan prinsip yang dijalankan sejak langkah pertama.
Di tengah wacana besar tentang hilirisasi dan dekarbonisasi, suara komunitas seperti Syaripuddin menjadi pengingat bahwa inovasi sosial adalah bagian tak terpisahkan dari pertambangan berkelanjutan. Ketika industri mendengar, merespons, dan bertindak, maka perubahan bukan hanya mungkin, ia sedang terjadi.
Program seperti ini mungkin tidak langsung berkaitan dengan teknologi rendah karbon atau proses hilirisasi mineral. Namun, ia membangun sesuatu yang jauh lebih mendasar, kepercayaan sosial. Kepercayaan ini adalah fondasi penting agar proses hilirisasi dapat berjalan dengan dukungan masyarakat dan agar inisiatif dekarbonisasi tidak hanya menjadi kebijakan teknokratis, tetapi juga gerakan kolektif yang dipahami dan didukung oleh komunitas lokal.
Ketika masyarakat merasa dilibatkan dan dihargai sejak awal, mereka lebih terbuka terhadap transformasi industri yang akan datang. Dukungan sosial ini memperkuat legitimasi perusahaan dalam menjalankan proyek hilirisasi yang berkelanjutan dan mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan. Dengan kata lain, keberlanjutan sosial adalah katalis bagi keberlanjutan teknis dan ekonomi.
Kisah Syaripuddin bukan hanya tentang seorang tukang kayu yang kembali melihat dunia dengan jelas. Ini adalah kisah tentang bagaimana sebuah perusahaan tambang, yang bahkan belum beroperasi, telah memilih untuk hadir secara bermakna di tengah masyarakat. Melalui tindakan nyata, PT Vale Indonesia IGP Pomalaa menunjukkan bahwa keberlanjutan bukanlah jargon korporat, melainkan komitmen yang hidup, dijalankan sejak awal, menyentuh kehidupan nyata dan membangun kepercayaan dari akar rumput.
Dan di bengkel kayu itu, di sudut Kolaka yang tenang, seorang pria paruh baya kembali mengukir kayu dengan presisi. Tapi lebih dari itu, ia sedang mengukir harapan baru untuk dirinya, keluarganya, dan komunitasnya. (***)






