KOLAKA, SULTRAKITA.COM –SMKN 9 Kolaka terus memperkuat kolaborasi dengan dunia industri sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi sekaligus memperbesar peluang serapan lulusan ke dunia kerja.
Kolaborasi tersebut salah satunya diwujudkan melalui program UT School yang telah berjalan di SMKN 9 Kolaka. Program pendidikan dan pelatihan mekanik alat berat itu kembali mencetak lulusan melalui wisuda 23 peserta Mekanik Reguler Batch 38 dan BMC PT Satria Jaya Sultra, Rabu (19/8/2026).
Dari 23 peserta yang diwisuda, sebanyak 12 orang merupakan peserta kelas reguler UT School, sementara 11 lainnya mengikuti program BMC hasil kerja sama dengan PT Satria Jaya Sultra yang diperuntukkan bagi masyarakat lokal di wilayah Kolaka.
Kepala SMKN 9 Kolaka, La Ode Kowareono mengatakan, kerja sama dengan UT School telah berlangsung sejak 20 Agustus 2025.
Menurutnya, SMKN 9 Kolaka menjadi satu-satunya SMK di Sulawesi Tenggara yang menjadi point UT School.
“Di Sulawesi Tenggara ini merupakan satu-satunya SMK atau lembaga yang menjadi point UT School,” ujarnya.
La Ode mengatakan, kerja sama tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen sekolah dalam memperkuat hubungan pendidikan vokasi dengan dunia industri.
Melalui kolaborasi tersebut, siswa maupun alumni tidak hanya mendapatkan pembelajaran di sekolah, tetapi juga kesempatan meningkatkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“Ini merupakan salah satu bentuk kolaborasi kami dengan dunia industri untuk meningkatkan kompetensi siswa dan alumni. Kami juga terbuka untuk berkolaborasi dengan mitra industri lainnya,” katanya.
Ia berharap kerja sama dengan UT School dapat terus berkembang dan memberikan manfaat lebih luas, khususnya dalam membuka peluang kerja bagi lulusan SMKN 9 Kolaka.
Apresiasi terhadap kolaborasi tersebut juga disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara, Hj. Suhaeny.
Ia menilai kolaborasi antara sekolah, lembaga pelatihan, dunia industri dan pemerintah merupakan bagian penting dalam menciptakan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Pendidikan dan pelatihan ini merupakan bagian dari proses yang lebih besar, yaitu upaya menyiapkan sumber daya manusia agar mampu menghadapi masa depan,” ujarnya.
Menurut Suhaeny, Sulawesi Tenggara memiliki potensi sumber daya alam dan pengembangan industri yang besar. Potensi tersebut harus diimbangi dengan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dan mampu mengelolanya secara profesional.
Karena itu, pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Suhaeny berharap pola kolaborasi seperti program UT School dapat diperluas ke lebih banyak SMK di Sulawesi Tenggara. Saat ini terdapat 186 SMK di provinsi tersebut yang dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan melalui kerja sama dengan dunia industri.
Ia juga mendorong penguatan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) di lingkungan pendidikan sebagai salah satu upaya memperluas akses lulusan pendidikan vokasi terhadap dunia kerja.
Kepada para wisudawan, Suhaeny berpesan agar tidak menjadikan pekerjaan pertama sebagai ukuran masa depan.
“Jangan ukur masa depan kalian hanya dari pekerjaan pertama yang kalian dapatkan. Bangun kemampuan untuk menjadi pribadi yang terus berkembang,” pesannya.
Ia berharap lulusan SMK tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi mampu berkembang menjadi tenaga profesional, inovator, pemimpin hingga pencipta lapangan kerja.
Wisuda 23 peserta UT School Kolaka menjadi salah satu bukti bahwa kolaborasi antara pendidikan vokasi dan dunia industri terus dibangun. Bagi SMKN 9 Kolaka, kerja sama tersebut menjadi bagian dari strategi sekolah untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang relevan sekaligus peluang lebih besar untuk terserap di dunia kerja. (bak)







