SULTRAKITA.COM, Sorowako – Hasil pengujian laboratorium terhadap gabah dari lahan persawahan terdampak tumpahan minyak jenis Marine Fuel Oil (MFO) di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, menunjukkan padi memenuhi standar mutu dan keamanan pangan sehingga dinyatakan aman dikonsumsi.
Hasil tersebut disampaikan dalam kegiatan Pemaparan Hasil Uji Demplot Penanaman Padi yang dihadiri Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam.
Pengujian dilakukan melalui kerja sama PT Vale Indonesia Tbk dengan sejumlah institusi, yakni IPB Consulting, Laboratorium ICBB, Laboratorium BRMP Pascapanen Pertanian, Kementerian Pertanian, serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Luwu Timur.
Hasil uji ini menjadi bagian dari rangkaian penanganan pascakejadian tumpahan MFO, sekaligus menjadi dasar untuk melanjutkan kegiatan pertanian di lahan terdampak.
Bupati Luwu Timur, Irwan Bachri Syam, mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam menangani dampak insiden tersebut. Upaya penanganan mencakup pembersihan area terdampak, identifikasi objek terdampak, pembayaran kompensasi, pelaksanaan demplot padi, hingga pengujian hasil panen.
“Apa yang menjadi keraguan dan keresahan kita, alhamdulillah hari ini sudah terjawab semua. Dengan hasil dari dua lab ini, kami berharap musim tanam kedua bisa disegerakan, mudah-mudahan Oktober atau paling lambat November bisa dilaksanakan,” ungkap Irwan.
Ia mengatakan, Pemerintah Kabupaten Luwu Timur siap membantu penyediaan bibit untuk mendukung musim tanam berikutnya. PT Vale juga akan mendampingi petani dan memberikan bantuan bibit.
“Saya berharap tidak ada lagi kecemasan ataupun keraguan kita. Vale akan mendampingi musim tanam kedua dan memberikan bantuan bibit. Kami dari Pemda Luwu Timur juga siap memberikan bantuan bibit,” katanya.
Petani Desa Timampu, Mursalim, menyambut hasil pengujian tersebut. Menurut dia, hasil laboratorium memberikan kepastian bagi petani untuk kembali menanam padi.
“Dari hasil dua lab yang disampaikan itu, kita bisa ambil kesimpulan bahwa penanaman berikutnya bisa kita lakukan karena hasilnya sudah layak konsumsi,” ujar Mursalim.
Head of External Relations Sorowako & Outer Area Vale Indonesia, Yusri Yunus, mengatakan perusahaan telah menjalankan pendampingan pertanian sejak insiden terjadi. Program tersebut ditujukan untuk memastikan kegiatan pertanian tetap dapat berlangsung selama satu siklus budidaya penuh, yakni Februari hingga September 2026.
Pendampingan dilakukan di sejumlah wilayah terdampak, meliputi Desa Lioka Dusun Molindowe, Lioka Dusun Polapi, Baruga, Langkea Raya, Matompi, dan Timampu.
Menurut Yusri, langkah penanganan tidak hanya berfokus pada pembersihan area terdampak, tetapi juga memastikan lahan pertanian dapat kembali produktif dengan hasil panen yang aman dikonsumsi.
“Kami memahami sepenuhnya kekhawatiran yang dihadapi oleh para petani sejak insiden tumpahan minyak ini terjadi. Untuk mengatasi hal tersebut, kami mengambil langkah mitigasi untuk mengembalikan rasa aman dan kepastian mata pencaharian warga,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengujian laboratorium menjadi bagian dari upaya perusahaan untuk memastikan kegiatan pertanian masyarakat dapat kembali berjalan.
“Pengujian ilmiah ini menjadi bagian dari wujud komitmen Perusahaan bahwa seluruh rantai roda perekonomian sektor pertanian di Kecamatan Towuti harus kembali berjalan normal tanpa hambatan ekologis,” kata Yusri.
Vale Indonesia menyatakan penanganan pascakejadian tumpahan MFO dilakukan secara bertahap, mulai dari pembersihan dan identifikasi area terdampak hingga pendampingan budidaya dan pengujian hasil panen. Langkah selanjutnya diarahkan untuk mendukung petani melanjutkan musim tanam berikutnya.(*/bak)






