SULTRAKITA.COM, Kolaka – Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) PT Vale Indonesia kembali menunjukkan hasil positif melalui kolaborasi dengan Kelompok Tani Padaidi, Desa Tondowolio, Kecamatan Tanggetada, Kabupaten Kolaka. Kolaborasi tersebut berhasil melaksanakan panen perdana jagung pakan di lahan seluas 5 hektar dengan produktivitas mencapai 7,58 ton per hektar, Kamis (8/1/2026).
Peningkatan hasil panen tersebut merupakan buah dari pendampingan berkelanjutan yang dilakukan PPM PT Vale kepada petani, mulai dari pengelolaan lahan, pemilihan benih, hingga penerapan pola tanam yang disesuaikan dengan kondisi geografis setempat. Pendampingan intensif ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas jagung pakan di wilayah Tondowolio.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kolaka, Ade Ida Mane, menilai hasil panen jagung pakan binaan PPM PT Vale berada di atas rata-rata produksi jagung pada umumnya. Menurutnya, rata-rata hasil panen jagung pakan di Kolaka berkisar 6 ton per hektar, sementara lahan binaan PT Vale mampu mencapai 7,58 ton per hektar dalam bentuk pipilan kering.
“Untuk panen hari ini, ada petani yang mencapai 8 ton per hektar dan ada juga 7 ton, sehingga rata-ratanya sekitar 7,5 ton per hektar. Dengan harga jagung saat ini sekitar Rp5.500 per kilogram, potensi pendapatan petani bisa mencapai lebih dari Rp41 juta per hektar, sebelum dikurangi biaya produksi,” kata Ade.
Ia menjelaskan, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan dan perawatan tanaman yang baik sangat berpengaruh terhadap peningkatan produksi. “Kalau dilihat dari kondisi umumnya, ini sangat baik. Tanaman dirawat dengan benar, sehingga produktivitasnya meningkat secara signifikan,” ujarnya.
Ade juga berharap kolaborasi antara PT Vale dan kelompok tani dapat terus berlanjut ke depan. Menurutnya, pembinaan yang dilakukan secara konsisten akan mendorong peningkatan produksi pertanian masyarakat secara berkelanjutan.
“Kami yakin jika kolaborasi ini terus berjalan, produksi jagung bisa lebih baik lagi. Sebagai perbandingan, di lahan yang dikelola tanpa pendampingan intensif, hasilnya sering kali tidak sampai 7 ton per hektar, bahkan hanya sekitar 6 ton. Jadi ini capaian yang sangat baik dan patut dipertahankan,” pungkasnya. (bak)






