SULTRAKITA.COM, Kolaka – PT Vale Indonesia IGP Pomalaa menggelar kegiatan promosi kesehatan bagi pelajar di SMP Negeri 1 Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sabtu (23/5) dengan fokus pada pencegahan penyalahgunaan narkoba dan penanganan HIV sejak usia dini.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 siswa dan 30 guru itu menghadirkan pemateri dari kalangan tenaga kesehatan dan menjadi bagian dari upaya perusahaan memberikan dampak positif bagi masyarakat di wilayah operasional.
Senior Coordinator Safety and Emergency Response PT Vale IGP Pomalaa, Dery Nurjaya, mengatakan edukasi tersebut penting dilakukan karena penyalahgunaan narkoba kini mulai menyasar kalangan usia sekolah.
“Vale ingin memberikan dampak positif bagi masyarakat di mana pun kami beroperasi. Salah satunya melalui edukasi di tingkat sekolah terkait penyalahgunaan narkoba dan penanganan HIV,” ujar Dery.
Menurutnya, siswa perlu mendapatkan pemahaman yang benar dari narasumber yang kompeten agar tidak hanya mengandalkan informasi dari internet yang belum tentu dipahami secara utuh.
Ia menjelaskan, dalam kegiatan itu siswa diberikan materi mengenai pengertian narkoba, jenis-jenisnya, dampak kesehatan, hingga cara menghindari dan menolak penyalahgunaan narkoba.
Pemateri juga memperlihatkan perbedaan hasil pemeriksaan medis dan pemindaian otak antara orang sehat dan pengguna narkoba.
“Kalau diberikan langsung oleh orang yang kompeten, siswa bisa memahami bukan hanya teorinya, tetapi juga konteks dan dampaknya secara nyata,” katanya.
Dery menambahkan, kegiatan di Pomalaa bukan semata-mata karena wilayah tersebut dikategorikan sebagai zona merah narkoba, melainkan sebagai langkah preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sejak dini.
“Bisa jadi kondisi yang ada sekarang berawal dari kurangnya edukasi dan pemahaman. Karena itu kami mulai memberikan pemahaman sejak usia dini,” ujarnya.
Ia juga membuka peluang agar program serupa dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah lain di wilayah operasional PT Vale ke depan.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 1 Pomalaa, Nurmadi, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan edukasi tersebut. Menurutnya, sosialisasi mengenai bahaya narkoba sangat penting untuk terus diberikan kepada siswa.
“Pesertanya sekitar 100 siswa ditambah 30 guru. Karena tempat juga kurang memungkinkan, jadi pihak manajemen menyarankan minimal 100 siswa saja,” kata Nurmadi.
Ia mengungkapkan, sekolahnya sebelumnya juga pernah mengikuti kegiatan screening dari Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa waktu lalu.
“Waktu itu ada pemeriksaan sampel sekitar 10 siswa dan alhamdulillah hasilnya tidak ada yang terindikasi,” ujarnya.
Selain dari BNN, sosialisasi serupa juga pernah dilakukan pemerintah desa dengan melibatkan para siswa. Bahkan pihak sekolah turut mengalokasikan anggaran sekolah untuk kegiatan edukasi bahaya narkoba.
“Kami dari sekolah juga pernah melaksanakan kegiatan seperti ini untuk memberikan edukasi kepada anak-anak terkait bahaya narkoba,” tutupnya. (bak)






