SULTRAKITA.COM, WAKATOBI – Perbaikan jalan masuk Pelabuhan Panggulubelo, Kabupaten Wakatobi ditunda setelah anggaran yang sebelumnya telah diproyeksi untuk pekerjaan tersebut ditarik kembali oleh Kementerian Perhubungan.
Akibatnya, kerusakan jalan yang dikeluhkan masyarakat pengguna jasa pelabuhan masih belum mendapat penanganan, sementara kepastian perbaikannya kembali bergantung pada pengusulan anggaran tahun berikutnya.
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas pemeliharaan infrastruktur pelabuhan, terutama karena akses tersebut menjadi jalur penting bagi masyarakat yang menggunakan transportasi laut.
Jalan yang rusak parah tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan pengendara dan pengguna jasa yang melintas setiap hari.
Petugas Kesyahbandaran, Rahman, menyampaikan penjelasan berdasarkan informasi dari Kepala UPP Wanci, Anwar Karim, bahwa anggaran perbaikan jalan masuk pelabuhan sebenarnya telah direncanakan pada tahun ini.
Bahkan, anggaran tersebut disebut telah mencukupi untuk menangani sebagian ruas jalan dan calon pelaksana pekerjaan telah tersedia. Namun, rencana itu urung direalisasikan setelah anggaran ditarik kembali oleh Kementerian Perhubungan.
“Sudah di proyeksi untuk di angarkan tapi pada saat melakukan pekerjaan, anggarannya tiba-tiba ditarik di kementerian perhubungan. Ditarik semua dan mungkin bukan hanya UPP Wanci, ada banyak juga yang ditarik. Mungki ada yang lebih dibutuhkan. Apalagi dalam kondisi negara yang masih efisiensi,” ujar Rahman, mengutip penjelasan Kepala UPP Wanci.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa penarikan anggaran menjadi penyebab tertundanya perbaikan. Namun, alasan spesifik di balik keputusan tersebut belum diketahui secara pasti oleh pihak Kesyahbandaran.
Rahman mengatakan, UPP Wanci akan kembali mengusulkan anggaran perbaikan pada tahun berikutnya. Ia juga menyebut Bupati Wakatobi telah menyurati Kementerian Perhubungan untuk meminta perbaikan jalan masuk Pelabuhan Panggulubelo.
“Dan Insya Allah kami akan usulkan kembali dan Pak Bupati juga sudah menyurat ke kementrian perhubungan untuk dilakukan perbaikan jalan masuk di pelabuhan panggulubelo. Mungkin seperti itu penjelasan dari pimpinan, Insya Allah tahun depan lagi kita anggarkan,” jelasnya.
Meski demikian, rencana pengusulan ulang belum menjamin perbaikan akan terealisasi. Tanpa kepastian alokasi anggaran dan jadwal pekerjaan, masyarakat masih harus menunggu, sementara risiko yang ditimbulkan oleh kondisi jalan tetap menjadi persoalan.
Rahman kembali menegaskan bahwa anggaran perbaikan sebenarnya telah tersedia dalam perencanaan, tetapi kemudian ditarik sebelum pekerjaan terlaksana.
“Kalau tahun ini sudah pernah dianggarkan hanya tetapi keburu ditarik kembali. Saya secara pribadi tidak tau alasan pastinya kenapa ditarik, tetapi yang jelas sudah ada calon pelaksananya. Anggarannya sudah bisa menutupi sebagian ruas jalan masuk pelabuhan tetapi ditarik kembali,” tambahnya.
Kerusakan jalan masuk Pelabuhan Panggulubelo juga memunculkan persoalan mengenai kualitas pelayanan fasilitas publik. Masyarakat yang memasuki kawasan pelabuhan, baik secara perorangan maupun menggunakan kendaraan, tetap melakukan pembayaran sesuai ketentuan yang berlaku. Karena itu, kelayakan akses dan keselamatan pengguna semestinya menjadi bagian penting dari perhatian pengelola dan instansi terkait.
Pembayaran yang dilakukan pengguna jasa memang tidak serta-merta menjamin bahwa setiap kerusakan harus langsung diperbaiki. Namun, kondisi jalan yang rusak parah patut menjadi perhatian serius, terlebih ketika perbaikannya telah direncanakan tetapi batal terlaksana akibat penarikan anggaran.
Dalam situasi tersebut, masyarakat membutuhkan lebih dari sekadar janji pengusulan kembali. Penjelasan terbuka mengenai alasan penarikan anggaran, langkah penanganan sementara, serta kepastian jadwal perbaikan diperlukan agar persoalan ini tidak terus berlarut-larut.
Pemerintah daerah dan Kementerian Perhubungan diharapkan segera berkoordinasi untuk memastikan perbaikan jalan masuk Pelabuhan Panggulubelo mendapat kepastian. Sebab, keselamatan pengguna jasa tidak semestinya terus dipertaruhkan hanya karena anggaran perbaikan tertunda.
Jika perbaikan baru direncanakan kembali pada tahun depan, langkah mitigasi terhadap risiko kecelakaan perlu dipertimbangkan sejak sekarang.
Tanpa penanganan yang jelas, kerusakan jalan tersebut berpotensi terus mengganggu aktivitas masyarakat dan menurunkan kualitas pelayanan di salah satu akses transportasi laut penting di Wakatobi. (MN)






