SULTRAKITA.COM, Kolaka – PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale) dengan prinsip pertambangan berkelanjutan, tidak hanya fokus pada eksplorasi dan produksi, tetapi juga menanamkan komitmen kuat terhadap pembangunan sosial di wilayah operasionalnya. Salah satu bentuk nyata dari komitmen tersebut adalah pelaksanaan Program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di Blok Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Dari sekian banyak inisiatif yang dijalankan, program pertanian System of Rice Intensification (SRI) Organik menjadi sorotan utama karena menyentuh langsung aspek ketahanan pangan, kesejahteraan petani, dan pelestarian lingkungan.
Senior Manager External Relation PT Vale Indonesia Blok Pomalaa, Hasmir menjelaskan, program SRI Organik di Blok Pomalaa mulai diperkenalkan pada akhir 2021 sebagai bagian dari strategi jangka panjang PT Vale dalam mendorong pertanian ramah lingkungan. Program ini menyasar petani lokal di empat desa percontohan yakni Puubunga, Puuroda, Puulemo, dan Lamedai.
“PT Vale Indonesia IGP Pomalaa melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) melibatkan petani dalam proses edukasi dan pendampingan. Mereka tidak hanya diajarkan teknik budidaya padi organik tanpa bahan kimia, tetapi juga diperkenalkan pada prinsip-prinsip pertanian sehat dan berkelanjutan yang mengedepankan efisiensi air, penggunaan benih lokal unggul, dan penguatan sistem perakaran tanaman,” ujar Hasmir.
Salah satu keunggulan metode SRI adalah kemampuannya meningkatkan hasil panen tanpa ketergantungan pada pupuk dan pestisida kimia. Di wilayah lain seperti Sorowako dan Morowali, metode ini telah terbukti mampu menghasilkan rata-rata 7 ton padi organik per hektare, jauh di atas rata-rata nasional untuk pertanian konvensional. PT Vale berharap keberhasilan serupa dapat direplikasi di Pomalaa, dengan target jangka menengah untuk memperluas pendampingan hingga 120 hektare lahan sawah.
“Yang menarik, program ini tidak berhenti pada budidaya padi. PT Vale juga mendorong diversifikasi pertanian dengan memperkenalkan sayuran organik dan tanaman herbal sebagai bagian dari sistem pertanian terpadu. Petani dilatih membuat pupuk kompos dan MOL (mikroorganisme lokal) dari bahan alami seperti daun hijau, batang pisang, dan kotoran ternak. Pendekatan ini tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga memperbaiki struktur tanah dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian,” katanya.
Sementara itu, Watno petani asal desa Puubunga kecamatan Baula mengungkapkan, pada awalnya ragu untuk beralih menggunakan metode SRI Organik, namun dengan adanya pelatihan dan dukungan dari PT Vale melalui Program Pertanian Sehat Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PSRLB) membuatnya percaya diri untuk beralih ke metode ini. Pelatihan dan dukungan ini sangat membantu dalam memahami dan mengimplementasikan teknik SRI Organik.
“Terkait dengan produksi yang dihasilkan belum signifikan kenaikannya, kurang lebih sama dengan konvensional tapi kami menangnya itu diharga karena penjualan beras organik lebih tinggi dibanding konvensional. Untuk saat ini harga jual beras organik di Kolaka Rp.20.000 per kilogram untuk kemasan 5 dan 10 kilogram. Metode SRI Organik telah terbukti meningkatkan nilai ekonomis secara signifikan dibandingkan metode konvensional,” ungkapnya.
Tak dapat dipungkiri, dengan beralih ke metode SRI organik, banyak tantangan yang dihadapi Watno dalam penerapannya. Salah satunya adalah penggunaan pupuk organik, dimana pupuk tersebut dibuat sendiri oleh petani.
“Bahan baku untuk pembuatan pupuk organik untuk wilayah Puubunga dirasa masih kurang. Selain itu tantangan lain adalah penyiangan atau pembersihan gulma. Karena kami tidak menggunakan pestisida atau bahan kimia, kami menggunakan alat manual yang namanya gasrok untuk membersihkan gulma, tentunya hal tersebut membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga yang lebih banyak,” katanya.
Sejak menerapkan metode SRI Organik yang ramah lingkungan dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dirinya merasa bertanggung jawab untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan memastikan bahwa pertanian yang dilakukan tidak merusak alam.
“Kami merasa bangga, dengan pegetahuan yang diberikan PT Vale. Apalagi dengan penggunaan pupuk organik ini tentu saja semakin lama kualitas tanah akan semakin baik, saya sangat yakin kedepannya produksinya akan semakin banyak,” ujarnya. (bak)






