Menu

Mode Gelap

Terbaru · 27 Sep 2020 10:16

ABK KM Al Sudais: Persoalan di Kapal Jangan Dipolitisir


 ABK KM Al Sudais: Persoalan di Kapal Jangan Dipolitisir Perbesar

SULTRAKITA.COM, WAKATOBI – La Jangku Anak Buah Kapal (ABK) KM Al Sudais, meminta agar Persoalan yang terjadi di Kapal Rute Wangi-wangi itu tidak dipolitisir, apalagi dikaitkan dengan Pilkada Wakatobi 2020.

Hal ini meyusul maraknya video yang beredar tentang persoalan dirinya bersama salah seorang penjual keripik (Ibu Wati) yang mengamuk, karena tidak terima ditegur saat menitip jualannya di KM Alsudais.

La Jangku menjelaskan, persoalan dirinya bersama Ibu Wati murni urusan pribadi dan salah paham saja, sebab saat menegur, dirinya tidak menyinggung urusan politik,  apalagi soal simbol kuning ataupun merah.

Menurut La Jangku, awalnya pada Selasa,  22 September 2020 sekitar pukul 22:00 Wita, setibanya kapal dari Kendari ia melihat Wa Eti diatas kapal, lalu ia meminta Wa Eti agar jangan lagi menitip kripiknya dikantin kapal, karena kapal juga punya jualan sendiri.

Setelah itu, ia kembali ke rumah, namun ternyata di malam itu juga suami Wa Eti datang ke kapal mencari dirinya. Padahal menurut La Jangku, ia hanya menyampaikan itu baik-baik, dan juga tidak mengeluarkan kata-kata kotor.

Baca juga :   Putus Penyebaran Covid-19, Koramil 1412-05/Pakue dan Koramil 1403-15/Malili Gelar Patroli Bersama

” Saya tidak tau apa yang disampaikan Wa Eti ke suaminya sampai suaminya mencari saya. Saya hanya tegur begitu saja, tidak seperti apa yang dia komentari dimedia bahwa dilarang menjual diatas kapal, bahkan sampai mengait-ngaitkan dengan politik. Padahal saya tidak pernah bicara kuning (simbol pasangan calon kepala daerah Arhawi-Hardin La Omo) ataupun merah (simbol pasangan calon kepala daerah Haliana-Ilmiati Daud) saat saya menegur dia.  Saya berani bersumpah, saya dibawa cahaya nur ini, ” ucap La Jangku, Minggu (27/09).

Kemudian,  kata La Janggu pada Kamis (24/9/2020) saat persiapan keberangkatan kapal ke Kendari, ibu itu kembali mendatangi dirinya dengan marah-marah, lalu ada yang merekam vidio.

” Saya baru mau naik dikapal ibu itu panggil saya,  lalu mengatakan akan tuntut saya di polisi,  karena cemarkan nama baiknya. Saya juga bingung,  cemarkan nama baiknya dari mana. Nah saya hanya sampaikan kalau bisa jangan lagi titip kripiknya di kantin kapal. Dimana letak kesalahannya saya. Salah ka kalau saya sampaikan begitu, ” kata La Janggu

Baca juga :   Yuddy Kembali Bergabung, Golkar Semakin Solid

Ia pun meminta agar persoalan ini jangan dipolitisasi, dimana dikait-kaitkan dengan Pilkada, padahal persoalan ini murni antara pribadinya dengan ibu tersebut.

Menurutnya, kejadian ini menjadi besar,  karena telah dikait-kaitkan dengan politik,  padahal dirinya tidak mempunyai niat untuk mengait-ngaitkan persoalan ini dengan politik.

” Lihat saja dalam vidio yang beredar itu, ibu itu sendiri yang bicara kuning dan merah,. Saya sendiri bingung,  kenapa sampai dikaitkan dengan politik, ” ucapnya.

Seharusnya, ibu itu bersyukur karena selama ini, ia berjualan diatas kapal diberikebebasan,  walaupun terkadang mengganggu kenyamanan penumpang diatas kapal.

” Saya minta dia bicara jujur jangan mengfitnah dengan menyebarkan informasi bohong itu, karena apa yang dia tuduhkan ke saya itu tidak betul. Saya berdoa semoga ibu itu sadar dan banyak-banyak beristigfar. ” Tegasnya

Dalam vidio firal berdurasi 1:25 detik ibu,  terlihat Wa Eti memarahi La Jangku yang hendak naik ke atas kapal, sangking marahnya warga kelurahan Mandati I Kecamatan Wangi-wangi selatan ini membanting kripik jualannya di tangga kapal.

Baca juga :   Ini Alasan Wa Ode Nurhayati Dukung Rusda- Sjafei

Dalam vidio tersebut Wa Eti menilai dirinya dilarang menjual dikapal karena dirinya tim merah (pasangan Haliana-Ilmiati Daud).

Iapun mengaku bahwa dirinya menjual kripiknya di salah seorang ABK untuk dijual kembali di kantin kapal.

” Kemungkinan ibu itu (Wa Eti)  ada join (kerjasama) dengan teman saya dikapal. Tapi saya tidak langsung ke teman ini, karena ku tau ini jualan yang ada dikanting itu jualanya dia. Jadi malam itu saya tanya dia (Wa Eti),  ibu jualan itu punya ibu ya?, dia menjawab ia. Saya bertanya lagi,  dititip kripiknya di kantin ya? , dia menjawab ia. Setelah itu saya sampaikan, mulai ini malam jangan lagi titipkan barannya (kripik) di kantin kapal karena kami punya jualan sendiri. Kantin itu bukan pasar.” tutup La Jangku. (UH)

Artikel ini telah dibaca 153 kali

Baca Lainnya

Tim Penilai PKK Koltim Lakukan Penilaian di Desa Lalosingi

14 Juni 2024 - 22:27

Pemkab Koltim Fokus Tingkatan Kinerja dan Reformasi Birokrasi

4 Juni 2024 - 20:21

PT Vale Serahkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir Bandang dan Longsor di Luwu

7 Mei 2024 - 12:17

Peringati Hari Ibu, Sekda Sultra Ajak Semua Pihak Hargai Perjuangan Perempuan

23 Desember 2023 - 07:51

Kelola Sampah secara Terpadu, Antam Gagas Program Momahe

11 Desember 2023 - 17:31

sultrakita.com, Pengelolaan Sampah Antam

Serikat Pekerja PT Antam UBPN Kolaka Bantu Rakyat Palestina

8 Desember 2023 - 17:17

Trending di Terbaru