Menu ✖

Mode Gelap

Features · 28 Sep 2026 14:01

Hilirisasi yang Mengalir ke Dapur Ratnasari


Ratnasari saat mengikuti pelatihan tata boga dalam program Livelihood Restoration Program (LRP) yang dijalankan PT Vale bagi masyarakat terdampak pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa (kiri). Ratnasari memperlihatkan produk abon hasil olahan kelompok usahanya. Perbesar

Ratnasari saat mengikuti pelatihan tata boga dalam program Livelihood Restoration Program (LRP) yang dijalankan PT Vale bagi masyarakat terdampak pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa (kiri). Ratnasari memperlihatkan produk abon hasil olahan kelompok usahanya.

Di dapur rumah kontrakannya di Desa Longori, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, aroma bawang putih dan ikan memenuhi ruangan. Ratnasari mengaduk suwiran ikan yang perlahan berubah menjadi abon. Di sudut lain, deretan kue dan keripik ubi menunggu dititipkan ke warung-warung. Dari dapur kecil itu, Ratnasari membangun kembali penghidupan keluarganya setelah kehilangan lahan yang dulu disiapkan untuk rumah.

Bakri Usman, sultrakita.com

Beberapa tahun lalu, Ratnasari memiliki sebidang lahan seluas sekitar 204 meter persegi di Desa Longori.

Bagi Ratnasari dan suaminya, lahan itu bukan sekadar tanah. Mereka membelinya dengan cara mencicil sedikit demi sedikit. Di atas lahan tersebut, mereka berencana membangun rumah pertama untuk keluarga.

“Lahan itu kami rintis dari nol. Saya dan suami belinya mencicil sedikit demi sedikit sampai lunas. Jujur saja, waktu tahu akan diambil, saya kecewa. Menurut saya itu lokasi yang paling strategis untuk kami membangun rumah,” kenangnya.

Rencana itu harus pupus setelah lahannya masuk dalam kawasan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Proyek hilirisasi yang dikembangkan PT Vale bersama Huayou dan Ford tersebut memiliki nilai investasi Rp74,44 triliun. Di kawasan itu, bijih nikel diolah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama baterai kendaraan listrik.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, mengatakan pengelolaan sumber daya nikel perlu memperhitungkan dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan.

“Nikel ini adalah sumber daya yang tidak terbarukan. Oleh karena itu, harus betul-betul kita yakinkan ketika kita mengambil nikel dari dalam bumi, maka dampak yang lain itu harus juga dipikirkan. Jangan sampai kita kemudian mengambil nikel, tetapi tidak memikirkan dampak dan justru meninggalkan dampak yang negatif,” katanya.

Kehilangan lahan membuat Ratnasari tidak hanya harus merelakan rencana membangun rumah. Ia juga harus memastikan roda ekonomi keluarganya tetap berjalan. “Sekarang saya masih ngontrak, anak saya juga kuliah. Jadi ada biaya kontrakan, biaya kos, uang semester, dan kebutuhan sehari-hari. Bebannya memang besar,” tuturnya.

Baca juga :   Hadiri First Digging Ceremony PT Pama, Bupati Kolaka Harapkan Proyek Vale di Pomalaa Bawa Dampak Nyata bagi Masyarakat

Di tengah kondisi tersebut, PT Vale menghadirkan Livelihood Restoration Program (LRP) untuk membantu masyarakat terdampak memulihkan mata pencaharian mereka. Melalui program ini, warga di wilayah pemberdayaan perusahaan, yakni Kecamatan Tanggetada, Baula, Pomalaa, dan Wundulako, mendapat pendampingan untuk mengembangkan sumber penghasilan yang dapat menopang kehidupan keluarga.

Ratnasari adalah salah satu dari 122 pemilik lahan terdampak yang mengikuti program tersebut. Setiap peserta diberi kebebasan menentukan bidang usahanya, mulai dari perikanan, pertanian, perdagangan, produksi bata merah, hingga tata boga. Ratnasari memilih tata boga.

Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sejak tahun 2017, ia sudah mencari penghasilan dengan berjualan makanan. Ia pernah berjualan di kantin sebuah sekolah dasar. Nasi kuning dan makanan ringan kemasan menjadi dagangannya.

Namun, usaha itu akhirnya berhenti ketika ia tidak lagi bisa terus berada di kantin sekolah. “Dulu sempat jualan di kantin sekolah. Setelah anak saya masuk sekolah, saya tidak bisa lagi jualan di situ karena mengantar-jemput anak,” ujarnya.

Dalam pelatihan tata boga, Ratnasari bersama sekitar 30 perempuan lainnya belajar membuat jajanan pasar, sekaligus memahami cara mengelola usaha.

“Sekarang saya sudah tahu mana keuntungan, mana modal yang harus disimpan lagi, mana yang bisa dipakai untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Menurut Pelaksana LRP, Agussasia, pendampingan tidak hanya diarahkan pada keterampilan produksi. Peserta juga didorong memahami dasar pengelolaan usaha dan melihat peluang dari potensi yang tersedia di sekitar mereka.

Berbekal pelatihan yang ia peroleh, Ratnasari memulai usaha kue. Setiap pagi, Ratnasari membuat kue dan berbagai jajanan pasar. Kue-kue tersebut kemudian dititipkan ke sejumlah warung di Baula dan Pomalaa.

“Alhamdulillah, makin ke sini peminatnya semakin banyak. Awalnya saya hanya titip di satu warung, sekarang sudah tiga warung. Biasanya jam sepuluh pagi sudah habis. Saya memang hanya titip karena tidak buka warung sendiri,” ujarnya.

Baca juga :   Ramuan Perubahan dari Pekarangan Tambang: Pemberdayaan Perempuan dan Inovasi Hijau PT Vale

Setiap hari, Ratnasari membuat sekitar 80 onde-onde dan 50 pawa untuk dititipkan ke warung. Dengan harga Rp1.250 per buah, dari dua jenis kue itu ia menyebut bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp45 ribu sehari.

Ia juga terkadang mendapat kesempatan memasok kue untuk kegiatan perusahaan. “Kalau seandainya ada kegiatan rapat PT Vale, alhamdulillah kami diberdayakan,” katanya.

Dalam program LRP, Ratnasari bersama kelompoknya juga dilatih membuat abon ikan dan telah lima kali memproduksi abon. Produk tersebut mulai diperkenalkan dalam berbagai kegiatan dan pameran UMKM.

Selain pelatihan, kelompok usaha mereka memperoleh bantuan modal sebesar Rp2 juta serta alat pengering untuk memulai produksi abon.

Pengalaman membuat abon memperluas cara pandang Ratnasari terhadap bahan pangan di sekitarnya. Ia mulai melihat bahwa bahan baku yang selama ini biasa saja dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Saat menitipkan kue di warung, ia memperhatikan jenis makanan ringan yang tersedia dan kebiasaan pembeli. Dari pengamatannya, keripik pisang sudah lebih dulu dijual, sementara keripik ubi belum banyak ditemukan. Kondisi itu membuatnya melihat peluang untuk menghadirkan camilan dengan bahan dan olahan yang berbeda.

“Karena ada proyek besar, pasti banyak pekerja, saya merasa ada peluang usaha baru. Saya lihat pekerja-pekerja belanja cemilan di warung. Saya pikir, kalau saya buat keripik ubi mungkin bisa juga laku,” katanya.

Pengamatan Ratnasari tentang banyaknya pekerja di sekitar proyek sejalan dengan data Dinas Nakertrans Kabupaten Kolaka. Per September 2025, pembangunan IGP Pomalaa melibatkan sekitar 4.096 tenaga kerja, sebanyak 2.894 orang atau 70,65 persen merupakan tenaga kerja lokal.

Ratnasari sebelumnya telah membentuk KWT Tangguh bersama tiga perempuan lainnya. Kelompok itu memiliki kebun yang ditanami ubi.

“Mulanya itu ubi kami tanam di kebun KWT. Setelah panen, sebagian kita jual, sebagian lagi kita konsumsi. Nah, saya berpikir, bagaimana kalau seandainya kita buat jadi keripik, hasilnya bisa jadi tambahan,” tuturnya.

Baca juga :   PT Vale Gelar Pelatihan ACLS untuk Tenaga Medis

Karena bahan baku utamanya berasal dari kebun kelompok, mereka tidak perlu membeli ubi untuk memulai produksi. Biaya yang dikeluarkan antara lain untuk minyak goreng, elpiji, dan bumbu-bumbu.

“Kalau untuk modal pertamanya kan ubinya kami tidak beli, nah paling yang dibeli seperti minyak goreng, elpiji, dan bumbu-bumbu, sekitar Rp300 ribu,” katanya.

Usaha keripik itu sudah berjalan sekitar lima bulan. Dari usaha tersebut, Ratnasari menyebut keuntungan yang diperoleh mencapai sekitar Rp1 juta per minggu. Keuntungan itu kemudian dibagi kepada empat anggota kelompok.

Kue, abon, dan keripik akhirnya menjadi tiga bagian dari perjalanan usaha Ratnasari. Kue menjadi usaha yang lebih dulu ia kembangkan setelah mengikuti LRP. Abon menjadi keterampilan baru yang diperoleh melalui pelatihan. Sementara keripik ubi lahir dari inisiatif dalam mengolah hasil kebun menjadi produk bernilai jual.

Di rumahnya, kondisi keluarga pun perlahan mulai membaik. Sekitar setahun terakhir, suaminya bekerja sebagai petugas keamanan pada salah satu perusahaan kontraktor yang mendukung operasional proyek PT Vale.

Kini keluarga itu memiliki dua penopang ekonomi. Suaminya bekerja sebagai petugas keamanan, sedangkan Ratnasari tetap menjalankan usaha bersama kelompoknya.

Pendapatan dari keduanya membantu membayar biaya kontrakan, kebutuhan sehari-hari, serta biaya pendidikan anak yang sedang kuliah.

Pagi itu, dapur Ratnasari kembali dipenuhi aroma abon ikan, deretan kue, dan keripik ubi. Di ruang sederhana itu, bahan-bahan yang semula bernilai biasa diubah menjadi produk yang bisa dijual.

Dari dapur itulah, nilai tambah hadir dalam bentuk yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, ikan menjadi abon, ubi menjadi keripik, dan adonan menjadi kue. Dari sana pula, Ratnasari menambah penghasilan dan menjaga harapan keluarganya tetap tumbuh. (**)

Artikel ini telah dibaca 17 kali

Baca Lainnya

Sekda Sultra Ingatkan OPD Pemprov Patuh pada Mekanisme Pelaksanaan Anggaran

31 Oktober 2025 - 13:56

Api Jadi Nanas, Slag Jadi Jalan

29 September 2025 - 21:00

Ramuan Perubahan dari Pekarangan Tambang: Pemberdayaan Perempuan dan Inovasi Hijau PT Vale

6 Agustus 2025 - 20:31

Ketika Kepedulian Menjadi Obat Terbaik: Kisah Syaripuddin dan Cahaya Baru dari Tambang

30 Juli 2025 - 19:44

Trending di Features