Di rumah kompos berdinding kayu di Desa Puuroda, Kecamatan Baula, Kabupaten Kolaka, Indah Susanti (43) sibuk mencacah bahan-bahan organik. Batang pisang, rumput, dan sisa tumbuhan diolah menjadi bahan baku pupuk. Di sudut lain, suaminya membalik tumpukan kompos.
Pemandangan itu berbeda dari beberapa tahun lalu, ketika pekerjaan tersebut belum mendapat tempat di hati suaminya.
Bakri Usman – Sultrakita.com
“Untuk apa? Kamu susah-susah begitu kan kamu enggak digaji sama Vale,” kenang Indah, menirukan perkataan suaminya saat ia mulai membuat kompos pada Desember 2021.
Bagi suaminya, pekerjaan itu hanya menguras tenaga tanpa kepastian penghasilan. Namun, Indah punya alasan sendiri untuk bertahan. Ia ingin membuat pupuk sendiri agar tak terus-menerus mengeluarkan uang untuk mengelola kebun dan sawahnya.
Pengetahuan dari pelatihan menjadi bekal awal. Namun, praktiknya tidak mudah. Indah mengenang kekesalannya ketika pendamping meminta jumlah bahan kompos ditambah hingga tiga kali lipat.
“Akhirnya saya merasa kesal dan sangat terbebani. Bahkan saya sempat melontarkan kata, ‘Kamu mau bunuh saya kah?,” kenangnya.
Indah harus mencacah dan mencampur bahan organik dalam jumlah besar. Setelah kompos jadi, ia menggunakannya pada tanaman di kebunnya sendiri. Ia kemudian melihat tanaman tumbuh lebih baik, sehingga semakin yakin pada manfaat kompos buatannya.
Kompos itu kemudian menarik perhatian pembeli. Penjualan pertama menghasilkan Rp300.000. Bagi Indah, uang tersebut menjadi bukti bahwa usaha yang semula diragukan bisa memberikan hasil.
Ia menyerahkan seluruh uang itu kepada suaminya. “Ini loh Pak, hasil komposmu, tapi dengan satu syarat: bantu saya mengumpulkan bahan baku untuk produksi kompos berikutnya,” katanya.
Sejak itu, suaminya mulai mendukung usaha yang sebelumnya sempat dipertanyakan, termasuk mengumpulkan bahan baku.
Bahan bakunya beragam, mulai dari batang pisang, rumput, hingga tanaman hijau seperti gamal. Sekam dan molase digunakan sebagai bahan pendukung. Bahan-bahan tersebut dicacah dan dicampur, lalu menjalani proses pengomposan selama sekitar satu bulan, dengan empat kali pembalikan. Setelah siap, kompos dapat digunakan di kebun dan sawahnya atau dijual kepada pembeli.
Dengan harga Rp2.000 per kilogram, satu ton kompos bernilai jual Rp2 juta jika seluruhnya terjual. Untuk memproduksinya, Indah membutuhkan sekitar 25 karung kotoran hewan (kohe) seharga Rp20.000 per karung, atau total Rp500.000. Setelah biaya kohe dikurangi, tersisa Rp1,5 juta sebelum upah tenaga kerja dan biaya lainnya.
“Sudah ada kelebihan Rp1,5 juta dan saya keluarkan lagi untuk biaya tenaga suami dan anak. Kan masih ada lebihnya lagi,” ujarnya.
Seiring meningkatnya produksi kompos, Indah tidak lagi bekerja sendiri. Selain suaminya, kedua anaknya turut membantu mengolah kompos, berkebun, dan bersawah. Atas pekerjaan itu, Indah tetap memberi mereka upah.
“Saya punya dua anak, mereka kerja sama saya membantu mengolah kompos, berkebun dan bersawah. Saya bilang ke mereka, bekerja itu tidak harus ke perusahaan, di rumah pun bisa kerja dan menghasilkan uang,” katanya.
Dengan memproduksi kompos sendiri, Indah memperoleh penghasilan dari penjualan sekaligus menghemat biaya pupuk untuk kebun dan sawahnya.
Rumah kompos bukan satu-satunya sumber penghasilan Indah. Ia juga menanam sayuran dan mengembangkan sawah organik. Berbagai kegiatan itu saling berkaitan, dengan kompos menjadi bagian dari upayanya mengelola lahan.
Dari penjualan seledri, Indah menyebut pemasukan yang diperolehnya bisa mencapai Rp100.000 sehari. Sementara itu, dari penjualan sayuran, ia memperkirakan pendapatan paling rendah sekitar Rp5 juta per bulan. Besarnya pemasukan bergantung pada musim dan ketersediaan air yang memengaruhi kegiatan panen.
Di sawah seluas 27 are, Indah mengembangkan padi organik, termasuk beras merah. Ia menyebut hasil panen padi beras merahnya mencapai delapan karung, dengan harga satu karung sekitar Rp1,5 juta. Biaya produksi sekali tanam diperkirakan sekitar Rp1,5 juta, dengan masa panen sekitar enam bulan.
Bagi Indah, usaha kompos dan kegiatan pertanian saling berkaitan. Kompos yang dibuatnya memenuhi kebutuhan pupuk untuk kebun dan sawah, sementara hasil panen menjadi sumber penghasilan keluarga.
Bahan organik yang semula dianggap tidak berguna kini memiliki fungsi baru. Sebagian kembali ke tanah sebagai pupuk, sebagian lainnya menjadi komoditas yang dapat menghasilkan uang.
Kegiatan pertanian Indah juga berkembang di luar usaha rumah tangga. Bersama Kelompok Wanita Tani (KWT) Melati, ia membudidayakan tanaman herbal. Ia juga menjadi anggota Asosiasi Petani Organik Kolaka (ASPOK) dan turut menjalankan pertanian organik dengan metode System of Rice Intensification (SRI).
Indah mengenang pengalaman saat beralih dari pertanian konvensional menuju pertanian organik. Ia mengaku mengalami penurunan kondisi tanaman pada tiga kali panen sayur.
Perubahan itu tidak langsung memberikan hasil seperti yang diharapkan. Tanaman sempat menguning, sementara Indah masih berusaha memahami cara mengelola lahan dengan pendekatan yang berbeda.
“Jadi bohong itu kalau dari konvensional ke organik itu dia langsung bisa hebat, tidak. Pasti ada proses,” ujarnya.
Ia tidak serta-merta meninggalkan metode yang baru dipelajarinya. Pengepul sayur yang selama ini membeli hasil panennya ikut membantu. Sayuran yang kondisinya kurang baik masih dapat dipasarkan dengan dicampur bersama hasil panen lainnya.
Tantangan juga datang dari sawah. Tanaman padi yang dirawatnya berulang kali diserang tikus. Bagian yang rusak harus ditanami kembali.
Indah mengulang pekerjaan itu setiap kali tanaman dimakan hama.
“Dimakan tikus tiga kali, saya sulam tiga kali. Dimakan tikus 10 kali, saya sulam 10 kali,” katanya.
Ia mengaku pernah menangis ketika melihat tanaman padi yang dirawatnya rusak. Namun, kesedihan itu tidak membuatnya berhenti. Ia kembali menanam bagian yang terdampak, meski harus mengulangi pekerjaan yang sama.
Baginya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Ia memilih terus berjuang meski harus menghadapi keraguan dan hinaan orang lain.
“Walaupun saya jatuh, saya tidak akan memperlihatkan bahwa saya jatuh. Mereka hanya akan melihat saya sukses. Dan bagaimana pun cara kamu menghina saya, menyebut saya orang gila, orang sinting, atau apa pun, terserah, silakan. Saya tetap berjuang,” ujarnya.
Kegigihan itu tumbuh bersama perubahan cara pandangnya terhadap tanah dan tanaman.
Sebelum mengenal pertanian organik, Indah terbiasa menggunakan bahan kimia untuk membasmi tanaman pengganggu di lahannya. Setelah mengikuti sekolah lapang selama lima hari, ia mulai memahami bahwa tanah memiliki ekosistem yang perlu dijaga dan tidak semua organisme di dalamnya merugikan tanaman.
Sejak akhir 2021, Indah mulai menerapkan pertanian organik secara penuh. Ia mempelajari cara baru mengelola lahan sekaligus menghadapi berbagai tantangan selama masa peralihan.
Perlahan, perubahan cara bertani itu membawa hasil pada lahan miliknya sendiri. Tanah yang sebelumnya tandus kini bisa ditanami dan menghasilkan pendapatan dari sayuran. Pada 2020, Indah bahkan belum memperoleh pendapatan dari sayuran dan masih menggarap lahan milik orang lain.
“Tanah saya sendiri yang dari awal tanah yang mati, tandus, sekarang sudah bisa ditanami bahkan sudah menghasilkan cuan. Tahun 2020 itu tidak ada pendapatan dari sayur, saya bahkan mengolah lahan orang,” kata Indah.
Selain pelatihan dan pendampingan, Indah juga menyebut dukungan sarana dari PT Vale, berupa mesin pencacah, mesin penggiling, workshop, dan gudang beras.
Pendampingan yang diikuti Indah merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat PT Vale Indonesia di wilayah Kolaka, seiring pengembangan Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa. Program pertanian organik tersebut diperkenalkan sebelum proyek memasuki tahap peletakan batu pertama pada 27 November 2022.
Presiden Direktur & CEO PT Vale Indonesia, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa keberlanjutan perusahaan tidak hanya berkaitan dengan kegiatan pertambangan, tetapi juga dengan kehidupan masyarakat di sekitarnya.
“Bagi PT Vale, keberlanjutan bukan hanya tentang bagaimana kami menambang secara bertanggung jawab, tetapi juga bagaimana kami tumbuh bersama masyarakat di sekitar wilayah operasi kami,” kata Bernardus Irmanto.
Di Kolaka, pendampingan tersebut membekali masyarakat dengan pengetahuan tentang pengelolaan lahan, pembuatan pupuk organik, dan praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan. Bagi Indah, pengetahuan itu membantu mengembangkan kompos yang awalnya dibuat untuk memenuhi kebutuhan pupuk kebun dan sawahnya sendiri menjadi produk yang dapat dijual.
Ridwan, pendamping PPM pertanian organik di wilayah tersebut, menjelaskan bahwa kegiatan diawali dengan asesmen pada September 2021. Pendampingan dimulai pada November tahun yang sama. Di Desa Puuroda, sekitar 15 orang mengikuti pelatihan. Namun, menurut Ridwan, sekitar enam orang masih konsisten membuat kompos. Indah termasuk di antara mereka.
“Ketika program bisa berjalan, masyarakat ini akan mempunyai skill sendiri. Jadi tidak terlalu bergantung dengan adanya perusahaan untuk bekerja. Mereka bisa menciptakan lapangan usaha sendiri untuk kehidupannya sendiri,” kata Ridwan.
Dari usaha itu, Indah pernah meraih hasil yang sebelumnya tak pernah dibayangkan. Salah satunya, ketika hendak membeli dua sepeda motor dengan tabungan Rp58 juta. Harga keduanya Rp60 juta, sehingga ia masih kekurangan Rp2 juta.
Saat itu, banyak anak sekolah membutuhkan bibit tanaman dalam polybag yang dijualnya, mulai dari seledri, tomat, lombok, hingga terong. Dalam sehari, Indah berhasil mengumpulkan kekurangan tersebut.
“Dari pagi sampai jam 10 malam saya dapat uang Rp2 juta hanya dengan berjualan tanaman di polybag. Saya sendiri tidak percaya bisa menghasilkan uang Rp2 juta dalam sehari,” ungkapnya.
Ketekunannya mengembangkan pertanian organik juga membawanya pada pengalaman yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
“Saya yang bukan siapa-siapa, saya yang tidak tahu apa-apa, menjadi saya yang dicari orang. Orang belajar kepada saya, saya diundang ke mana-mana,” ujarnya.
Bahkan, anaknya sempat mengingatkan agar Indah tidak terlalu tinggi bermimpi karena khawatir ia kecewa jika harapannya tak terwujud. Namun, ketika kesempatan ke Jakarta benar-benar datang, Indah menunjukkan tiket perjalanan kepada keluarganya. Keraguan anaknya pun perlahan terjawab.
Bagi Indah, perjalanan itu membuktikan bahwa pengetahuan yang dipelajarinya di desa dapat membawanya bertemu orang-orang dari tempat yang jauh. Ia pun merasa memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha dan memperoleh penghasilan dari keterampilan yang dimiliki.
“Saya sangat berterima kasih, sekarang saya tahu tentang bagaimana cara mencetak uang,” katanya.
Di tengah pengembangan hilirisasi nikel di Pomalaa, perjalanan Indah memperlihatkan sisi lain dari perubahan di Kolaka. Dari pertanian organik, ia menemukan cara untuk mengembangkan potensi di sekitarnya menjadi usaha yang menopang kemandirian keluarga.
Bahkan sebelum groundbreaking IGP Pomalaa, PT Vale telah menjalankan program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Upaya ini menjadi bagian dari pendampingan masyarakat agar memiliki bekal untuk mengembangkan potensi lokal dan membangun sumber penghidupan secara berkelanjutan.
Di rumah kompos berdinding kayu di Puuroda, batang pisang, rumput, dan sisa tumbuhan terus diolah menjadi pupuk. Dari bahan yang semula dianggap tidak berguna, Indah menemukan nilai tambah. Bersama keluarganya, ia terus mengembangkan usaha yang tumbuh dari pengetahuan, ketekunan, dan potensi di lingkungannya. (***)






