SULSEL_SULTRAKITA.COM, WATAMPONE — Langit Palakka mendung, seakan ikut berduka. Andi Timbang Terama, Camat Palakka yang dikenal dekat dengan rakyat, menghembuskan napas terakhirnya di tengah tugas—tepat saat Ia berdialog dengan warga Desa Mico, Jumat (25/7).
Sebuah akhir yang menggambarkan perjalanan hidupnya: setia hingga detik terakhir.
Tak banyak pemimpin yang meninggal di medan pengabdian. Namun, Andi Timbang Terama memilih untuk tetap bekerja, meski ajal tak bisa ditunda.
Saat itu, Ia tengah memantau program pembangunan desa, mendengar langsung keluhan warga, seperti biasa dilakukannya. Tiba-tiba, tubuhnya tak lagi kuat menahan beban.
“Beliau jatuh saat sedang berbicara dengan seorang petani. Sempat dibawa ke puskesmas, tapi nyawanya tak tertolong,” kata Amir, salah seorang staf kecamatan yang menyaksikan detik-detik terakhir sang camat.
Andi Timbang bukan sekadar nama di balik meja kantor. Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, selalu menyapa setiap warga yang dijumpainya. Tak peduli hujan atau terik, ia kerap blusukan ke pelosok desa, memastikan tak ada yang tertinggal.
“Bapak Camat selalu datang tanpa pemberitahuan. Kadang kami kaget melihatnya tiba-tiba di tengah sawah, menanyakan kesulitan kami,” kenang Siti, warga Palakka yang kerap bertemu almarhum.
Kabar kepergiannya menyebar cepat, menyisakan duka mendalam. H. Andi Fahsar Mahdin Padjalangi, mantan Bupati Bone dua periode, turut menyampaikan kesedihannya.
“Innaa Lillahi Wa Innaa Ilaihi Roji’un. Andi Timbang adalah contoh pemimpin sejati—sederhana, jujur, dan mencintai rakyatnya. Kami kehilangan seorang abdi negara yang langka,” ucapnya dengan suara bergetar.
Tak hanya dari kalangan pejabat, puluhan warga spontan berdatangan ke kediaman almarhum. Mereka mengenangnya sebagai sosok yang tak pernah menolak mendengar, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun.
Kini, ruang kerjanya kosong. Meja yang biasa dipenuhi berkas usulan proyek warga masih rapi, seolah menunggu pemiliknya kembali. Namun, jejaknya tetap hidup: dari jalan desa yang kini lebih baik, hingga senyum warga yang pernah dibantunya.
Andi Timbang Terama mungkin telah pergi, tetapi semangatnya—untuk melayani hingga titik akhir—akan terus menjadi inspirasi.
Sebuah pesan sederhana: pemimpin sejati tak pernah berhenti bekerja, bahkan untuk nafas terakhirnya. (WRD)






