SULTRAKITA.COM, SURABAYA – Sebuah prestasi gemilang lahir dari tangan dua siswi belia Aisyah Inara dan Sri Mutia Lestari. Tim siswi kelas VIII SMP Islam Athirah Bone ini, berhasil mengukir nama sekolah mereka di peta nasional, serta membawa harapan baru bagi pelestarian budaya lokal.
Melalui inovasi cerdas berjudul “WANA-CUS (Wanua Cultural Sustainability): Revitalisasi Wanua Museum Berbasis Augmented Reality (AR)”, mereka menyabet Medali Emas pada Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025.
Keberhasilan ini istimewa. Ini adalah pertama kalinya tim penelitian SMP Islam Athirah Bone melangkah ke tingkat nasional dan langsung naik podium tertinggi. Sebuah debut yang spektakuler.
Dibalik nama yang terdengar teknis, WANA-CUS menyimpan misi yang mendalam: menyelamatkan memori kolektif generasi muda Kabupaten Bone akan warisan budayanya. “Wanua” dalam bahasa Bugis berarti “negeri” atau “kampung halaman”.
Melalui aplikasi berbasis Augmented Reality (AR) ini, Aisyah dan Mutia menghidupkan kembali koleksi Museum Wanua, membuatnya bisa diakses, dipelajari, dan dikenali oleh remaja dengan cara yang modern dan interaktif.
“Ini adalah upaya kami untuk mendukung cultural sustainability atau keberlanjutan budaya di kalangan remaja Bone. Kami ingin teman-teman sebaya justru menjadi garda terdepan dalam melestarikan warisan leluhur,” ujar Aisyah.
Euforia kemenangan terasa di Universitas Surabaya (Ubaya), tempat final dan penganugerahan berlangsung pada 10-16 November 2025. Dalam foto usai pengumuman, raut wajah keduanya memancarkan kebahagiaan dan kebanggaan, menggenggam erat sertifikat, medali emas, serta hadiah pembinaan.
Namun, jalan menuju emas tidaklah mulus. Prestasi ini adalah buah dari kesabaran, ketekunan, dan dukungan tanpa henti. Kepala SMP Islam Athirah Bone Nuraeni dalam wawancaranya menyampaikan rasa syukur yang mendalam.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur melihat minat siswa di bidang penelitian semakin membara, terutama dalam dua tahun terakhir. Semangat ini adalah modal berharga,” ujarnya.
Wanita kelahiran Butta Panrita Lopi itu dengan tegas menyatakan bahwa kemenangan ini adalah hasil kolaborasi.
“Prestasi Aisyah dan Mutia adalah cermin dari dukungan orang tua, dedikasi guru pembimbing, fasilitas yang memadai, dan lingkungan belajar yang selalu mendorong anak-anak untuk berinovasi.” pungkas Nuraeni.
Sosok kunci lainnya adalah Wahidah Febriyah Ramadhani, pembina ekskul KIR (Kelompok Ilmiah Remaja) sekolah. Dialah yang dengan setia dan sabar mendampingi setiap langkah tim, dari penyusunan proposal hingga persiapan menuju podium nasional.
Kemenangan dua siswi dari Bone merupakan cerita tentang bagaimana semangat muda mampu melahirkan karya yang tidak hanya memenangi kompetisi, tetapi juga memiliki arti bagi masyarakat.
Mereka membuktikan bahwa generasi Z bisa menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi, membawa “wanua”-nya melangkah percaya diri di panggung Indonesia. (WRD)






