Disusun oleh: Dr. Sarmadan, S.Pd., M.Pd., C.Ed
“Kalau kita tak bisa menyelesaikan masalah bangsa ini lewat pendidikan dan riset, untuk apa kita kuliah jauh-jauh ke luar negeri?”
Itulah sepenggal refleksi yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D. dalam pembukaan Musyawarah Nasional (MUNAS) I Asosiasi Dosen dan Akademisi Sains Indonesia (ADAKSI) yang berlangsung pada 2 Mei 2025.
Munas ini bukan sekadar ajang berkumpul para dosen, tetapi juga penegasan: masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh apa yang dikerjakan para pendidik, peneliti, dan akademisi hari ini.
Dosen dan Mahasiswa: Garda Terdepan Perubahan
Indonesia punya 4.436 perguruan tinggi dari PTN dan PTS, 300 ribu-an dosen, dan kurang lebih 10 juta mahasiswa. Ini bukan angka biasa. Ini adalah kekuatan besar yang, jika digerakkan secara kolektif, bisa menjadikan Indonesia bukan hanya “besar” secara jumlah, tapi juga unggul secara kualitas.
Sayangnya, budaya ilmiah di Indonesia masih belum sepenuhnya tumbuh subur. Menjadi peneliti di negeri ini masih dianggap kurang menguntungkan secara finansial. Padahal, di balik kesunyian laboratorium, sejatinya ada potensi ekonomi dan dampak besar untuk bangsa.
Menteri menceritakan pengalamannya saat menjadi dosen muda di ITB. Gaji pas-pasan, tidak ada komputer, dan proposal riset yang terus ditolak 4 tahun berturut-turut. Tapi karena semangat dan kesabaran, kini ia memiliki laboratorium riset yang diadaptasi dari Jepang.
Dari laboratorium tersebut, muncul hasil-hasil riset yang berhasil menembus jurnal-jurnal ilmiah kelas dunia dengan impact factor di atas 20. “Saya bangun tim besar. Jangan pernah berjuang sendirian,” ujarnya.
Belajar dari Jepang, Korea, dan Buku Atomic Habits
Di Jepang dan Korea, mahasiswa dan dosen dikenal sebagai pekerja keras tanpa batas. Mereka bisa presentasi riset hingga pukul 9 malam tanpa mengeluh. Ketika ditanya mengapa begitu ngotot, jawabannya sederhana: mereka bangga saat bendera negaranya berkibar di dunia.
Hal ini sejalan dengan pesan dalam buku Atomic Habits—bahwa perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang konsisten. Kisah tim sepeda Inggris yang gagal sejak 2001 tapi kemudian meraih 7 medali emas Olimpiade pada 2007 menjadi contoh inspiratif bahwa proses panjang dan tekun pasti membuahkan hasil.
Riset Bukan Jalan Sunyi
Menjadi peneliti bukan berarti menjalani hidup yang sepi dan miskin. Banyak contoh keberhasilan yang lahir dari dunia riset. Salah satu kolega Menteri, seorang dosen, bahkan memiliki kekayaan puluhan triliun dari hasil inovasi teknologi. Ada pula riset Pak Menteri sendiri yang dibeli perusahaan dengan royalti ratusan juta per tahun.
Tantangannya adalah membangun sistem yang mendukung. Di negara-negara maju, dana riset sebagian besar datang dari sektor industri. Sementara di Indonesia, masih sangat bergantung pada pemerintah.
Maka penting bagi kampus untuk membangun sinergi dengan pemerintah daerah dan dunia usaha.
“Industri itu selalu butuh kampus. Mereka datang, minta tolong, dan kita dibayar. Jadi kenapa kita hanya sibuk menguji skripsi?” tanya Menteri dengan nada reflektif.
Ayo Menulis, Jangan Hanya di Grup WhatsApp
Satu sindiran tajam disampaikan kepada para akademisi: “Dosen sekarang lebih banyak menulis di WhatsApp grup ketimbang jurnal ilmiah.”
Padahal, menulis adalah salah satu bentuk amal jariyah paling kuat dari seorang akademisi. Tulisan ilmiah bisa dibaca puluhan tahun ke depan. Sementara status di WAG? Tiga hari saja sudah tenggelam.
Menteri mengajak agar budaya menulis dan membaca tidak hanya menjadi milik kampus, tetapi juga milik masyarakat. Bayangkan jika perpustakaan kampus dibuka untuk umum. Bayangkan jika dosen membimbing mahasiswa bukan hanya soal IPK, tapi juga soal mimpi dan karakter.
Sebuah Kisah Tentang Parfum dan Mimpi
Di penghujung sambutannya, Menteri membagikan kisah inspiratif. Seorang alumni ITB menghubunginya. Namanya Amrod, kini sukses menjual parfum lokal bermerek Humans, dengan omzet miliaran dan masuk Paris Fashion Week. Saat ditanya apa rahasia suksesnya, Amrod menjawab, “Pak Brian dulu menyuruh saya cari beasiswa. Nasihat itu saya pegang.”
Tidak ada uang, tidak ada hadiah besar, hanya satu nasihat yang kemudian mengubah arah hidup seseorang.
“Inilah bukti bahwa menjadi pendidik adalah pekerjaan mulia. Ini ladang amal,” pungkas sang Menteri.
Titip Mahasiswa dan Dosen Muda
Akhir kata, ia menitip pesan kepada seluruh dosen senior di Indonesia: bimbinglah dosen muda dan mahasiswa kita. Bukan hanya agar mereka pintar, tetapi agar mereka punya mimpi dan keberanian untuk berinovasi. Jangan buru-buru mengeluh. Jangan cepat menyerah.
Karena dari ruang kuliah dan laboratorium hari ini, lahir masa depan Indonesia yang unggul, berdikari, dan berdaulat.
(Penulis adalah : Dosen Universitas Sembilanbelas November Kolaka, Sulawesi Tenggara)







