Menu

Mode Gelap

Opini · 2 Jun 2024 09:58

Orang Miskin Harus Sekolah


 Orang Miskin Harus Sekolah Perbesar

Oleh : Dr. Anidi, S.Ag., M.Si., M.S.I., M.H

 

Pemerataan  kesempatan memperoleh pendidikan diharapkan sebagai salah salu jalur untuk mengatasi ketidaksamarataan dalam masyarakat untuk meningkatkan hidup rakyat (orang) miskin. Demikian bunyi kalimat yang sering terdengar kalau kita bicara soal pendidikan dan kemiskinan.  Kemiskinan sebagai fenomena yang menghalangi orang-orang miskin mengambil bagian dalam kesempatan, termasuk kesempatan memperoleh pendidikan,

KEMISKINAN SEBAGAI JURANG PEMISAH

Memang, kemiskinan seringkali membuat kita trenyuh. Mereka sering tidak bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka yang paling dasar. Mereka terkurung dalam perangkap kemelaratan, tidak berdaya dan tidak mampu mengadu nasib mereka yang bagaikan takdir malang. Setiap jalan untuk lolos dari lubang kemelaratan seakan-akan tertutup. Kenyataan ini lebih terasa pahit lagi kalau kita dihadapkan pada kemakmuran yang dinikmati orang-orang kaya. Jurang semakin dalam memisahkan mereka yang punya” dari “mereka yang tidak punya”. Orang yang tak berpunya tersebut tentu juga sempat berpikir ingin seperti mereka yang punya. Syukurlah kalau mereka lalu mulai berpikir keras dan sehat, artinya mereka berusaha untuk bisa menjadi orang yang bisa hidup lebih baik. Tapi yang tidak kita inginkan adalah keinginan yang membabi buta dan tidak dilandasi oleh pikiran yang sehat.

Pada gilirannya, sering kita baca di koran-koran berita maupun majalah, dan pada media social, kasus-kasus kejahatan  tersebut, setelah ditelusuri disebabkan, mereka dalam kondisi terjepit”. Mungkin karena terjerat hutang, atau perut sudah sangat lapar sementara isi kantong sudah tidak ada dan sebagainya. Miskin bukan bodoh, kalau kita kembali ke kalimat awal tulisan ini, apakah harapan itu bisa dikatakan realistis? Apakah justru pendidikan dapat memberi sumbangan yang berarti untuk menanggulangi masalah yang mendasar itu ? Apa syaratnya supaya pemerataan pendidikan sungguh-sungguh bisa berhasil ? Memang tidak mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Diantara para ahli ilmu-ilmu sosial pun tidak terdapat kesepakatan. Di satu pihak, ada yang sangat mengandalkan pendidikan sebagai jalan keluar dari kemiskinan. Di pihak lain, ada pula yang meragukannya.

Baca juga :   Bupati Kolaka Ajak Kades Terpilih Rangkul Masyarakat

Lingkungan sosial yang miskin, kebanyakan orang memiliki pendidikan yang rendah. Mereka sering belum melek huruf (tidak bisa membaca) atau putus sekolah. Dengan kata lain, mereka paling banter tamat pendidikan dasar. Kesempatan untuk pendidikan lanjutan hampir tidak ada. Pada zaman sekarang, keadaan selalu cepat berubah dan terus menerus berubah. Taraf pendidikan yang sangat rendah pada umumnya berkaitan dengan informasi dan pengertian yang serba terbatas. Dengan demikian, segala kesempatan atau sukses juga serba terbatas. Kita tahu, orang miskin yang kurang berpendidikan tidak berarti bodoh,

KEMISKINAN DAN DUNIA MODERN

Kecerdikan dan kepandaian mereka mau tidak mau terbatas pada lingkungan sosial mereka yang sangat sempit dan lebih diwarnai oleh tradisi. Itulah salah satu sebab mengapa mereka sering kurang berdaya menghadapi dunia modem dengan segala resikonya, sehingga mereka mudah dipermainkan dan ditipu atau barangkali menjadi korban pemerasan oleh orangorang yang lebih pintar. Meskipun hal tersebut sering tidak terasakan olehnya.

Kemiskinan (orang miskin) tidak tahu menahu tentang bentuk kredit, hukum tanah, atau cara pemasaran yang “modern”. Itulah  salah satu akar terdalam dari ketidakadilan yang beragam. Sebagai akibat, lingkungan sosial sebagai tempat dimana anak-anak miskin dibesarkan dan dididik ikut terpengaruh. Perkembangan kognitif (pengetahuan), intelektual, dan mental mereka semua penuh keterbatasan, semua itu seakan terbelenggu dalam lingkungan yang miskin.

Baca juga :   Dr. Hans Kwee: Pemerintah Diminta Memastikan Investasi Asing Ekstraktif Memiliki Nilai Tambah

KEMISKINAN DAN PESIMISME

Kondisi kemiskinan inilah yang sering membuat kita pesimis. Karena bagaimanapun anak-anak miskin itu kelak menjadi penerus orang tuanya. Paling tidak penerus keturunan moyangnya. Apakah mereka juga akan menjadi penerus kemiskinan? Lingkaran setan pendapat umum mengatakan bahwa kalau kita ingin hidup layak, kita harus bekerja. Di satu sisi, kalau kita mengupas tentang dunia /pasaran kerja, masukan pasaran tenaga kerja hampir seluruhnya berasal dari keluaran lembaga pendidikan formal. Kalaupun ada yang tidak melalui pendidikan formal, persentasenya sangat kecil. Kalau demikian halnya, agar anak-anak miskin dapat memasuki dunia yang lebih cemerlang, dunia yang bebas dari kemiskinan, mereka harus masuk ke dalam lembaga-Iembaga pendidikan. Sementara itu, apa yang kita lihat sekarang ini (mereka  dalam pesimisme)..?

KEMAJUAN BUKAN UNTUK SESAMA..?

Menyekolahkan anak-anak bukan sesuatu yang murah dan mudah dijangkau. Dimana-mana kita tahu, biaya sekolah semakin mahal. Mungkin dari iuran sekolah atau SPP tidak begitu menyedot biaya, akan tetapi untuk biaya yang lain. seperti fasilitas-fasilitas penunjang, pakaian sekolah, kebutuhan sandang pangan, dan sebagainya. Justru dari “yang lain-lain” inilah butuh biaya yang tidak sedikit. Lalu bagaimana dengan si miskin (yang tidak berkemampuan). Kemiskinan meliputi “miskin banyak hal”. Pendidikan orang miskin kurang berhasil karena mereka memang miskin. Dan sebaliknya, mereka tetap miskin karena kurang berhasil dalam pendidikan. Untuk menanggulangi kenyataan tersebut, tidak bisa diharapkan dalam jangka waktu pendek. Tetapi justru karena itu perlu ditangani dan diusahakan dengan sungguh-sungguh. Kondisi itu akhirnya hanya bisa dipecahkah dengan memerangi kemiskinan itu sendiri. Untuk apa segala kemajuan ini kalau bukan untuk sesama..?

Baca juga :   Sampaikan Visi dan Misi, Erman Siap Melayani Masyarakat Demi Terwujudnya Desa Yang Maju

** Dekan FKIP Unsultra
 

Artikel ini telah dibaca 301 kali

Baca Lainnya

Dr. Hans Kwee: Pemerintah Diminta Memastikan Investasi Asing Ekstraktif Memiliki Nilai Tambah

11 Juli 2023 - 10:04

Dr. Hans Kwee

Pemilu dan Tradisi Politik Uang

27 Februari 2023 - 09:02

Kenny Rochlim: SPPT PBB Bukan Bukti Kepemilikan Hak Atas Tanah

23 Februari 2023 - 12:22

Gubernur Harus Teguh Perjuangkan Kepentingan Rakyat Buton Selatan

23 Mei 2022 - 15:50

Ir. La Ode Budi Utama

Potensi TOGA Untuk Meningkatkan Imunitas Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Kelurahan Puuwatu, Kota Kendari

16 Januari 2022 - 18:32

Nasib Perempuan Akibat Pernikahan Dini

8 Januari 2022 - 19:19

Trending di Opini