Menu

Mode Gelap

Opini · 20 Feb 2018 09:13 WITA

FINAL PIALA PRESIDEN 2018: PANGGUNG PEREBUTAN POPULARITAS JOKOWI vs. KUALITAS ANIES


 FINAL PIALA PRESIDEN 2018: PANGGUNG PEREBUTAN POPULARITAS JOKOWI vs. KUALITAS ANIES Perbesar

Oleh :  SARMADAN

Teranyar viral di media sosial maupun media online video pengadangan Paspampres terhadap Anies Baswedan untuk bersama-sama rombongan presiden dalam rangka memberikan ucapan selamat dan pemberian hadiah kepada finalis, khususnya juara Piala Presiden 2018, tim Persija Jakarta. Seperti diketahui bahwa Final Piala Presiden digelar di Stadion Gelora Bung Karno, pada Sabtu 17 Februari 2018. Perlu ditegaskan di sini bahwa video berdurasi sekira 14 detik merupakan video asli, bukan hoax atau berita palsu.

Disadari atau tidak insiden tersebut tidak hanya menjadi ajang persaingan olahraga antara Persija Jakarta vs. Bali United sebagai kontestan Final Piala Presiden, akan tetapi secara politik di sana ada arena pertarungan dan perang dingin antara Jokowi vs. Anies. Tentu anggapan ini dapat dianggap prematur sebab Jokowi maupun Anies belum mendeklarasikan diri sebagai calon presiden atau wakil presiden di Pilpres 2019. Namun hal ini juga tidak salah jika dikaitkan dengan agenda politik Pilpres 2019 tersebut, di mana menghadapi tahun politik tersebut akan sangat kental dengan aroma trik dan intrik dalam memenangkan persaingan. Apakah hal ini juga berkaitan dengan Jokowi vs. Anies di panggung Pilpres 2019?

Dalam kasus pencegatan terhadap Anies yang dilakukan oleh Paspampres menjadi fakta yang secara terang benderang menunjukkan adanya politik tingkat tinggi yang coba dibangun oleh Jokowi ataupun orang-orang terdekatnya untuk membendung dan menghambat popularitas Anies yang saat saat ini secara politik menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Jelas ini adalah sebuah gengsi untuk tampil di podium juara dalam rangka meraih popularitas.

Dari kacamata hukum, insiden Paspampres menghalangi Anies Baswedan selaku Gubernur DKI Jakarta adalah hal yang salah. Mengacu pada pernyataan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah bahwa “Sekretariat Negara perlu melakukan evaluasi. Karena apapun itu. adalah pelanggaran terhadap hukum dan melanggar UU Protokoler” tegas Fahri.

Pengamat komunikasi politik, Effendi Gazali yang turut serta hadir dan nonton secara langsung di tribun yang sama dengan Jokowi dan Anies, bahkan duduk sangat dekat di royal box dengan 2 orang figur tersebut mengaku bahwa Anies berkata padanya “Sebelumnya saya telah diinformasikan untuk turun mendampingi presiden”. Namun realitasnya rakyat Indonesia tidak melihat sosok Anies pada seremoni di panggung juara karena pada akhirnya ia tidak diizinkan untuk turun.

Persiapan panggung championship atau panggung juara yang cukup lama, sampai presiden, pejabat negara, serta seluruh penonton menunggu waktu yang cukup lama untuk menyaksikan prosesi penyerahan hadiah tersebut menurut hemat penulis menjadi awal dari insiden ini. Di sini mungkin terjadi sebuah diskusi dari pihak panitia untuk menentukan siapa-siapa saja yang akan diundang di panggung juara. Dan salah satu sosok yang paling disoroti adalah Anies, apakah akan diundang atau tidak. Namun, di sinilah kesalahan fatal yang dilakukan oleh panitia, yang meskipun tidak diarahkan langsung oleh presiden sebab presiden sedang asik menikmati sajian hiburan di Stadion Gelora Bung Karno. Dan memang tidak sama sekali ada koordinasi antara Presiden Jokowi dengan panitia, semisal pemberian secarik kertas dari panitia kepada presiden.

Deputi Kepala Sekretariat Presiden Bidang Protokol, Pers, Media dan Informasi, Bey Macmudin memberikan pernyataan bahwa Paspampres hanya melaksanakan apa yang dibacakan oleh pembawa acara yang tidak membacakan nama Pak Anies. Secara standar dapat dikatakan bahwa insiden ini hanya pada persoalan dengan pembawa acara. Namun demikian, jika menyoroti lebih kritis maka kita akan bertanya siapa pembawa acaranya, apa ideologi dan warna politiknya? Jawaban atas pertanyaan itu bahwa pembawa acara yang sekaligus Ketua Streering Committee Piala Presiden adalah Maruarar Sirait yang merupakan politikus dengan ideologi politik PDIP dimana partai tersebut sebagai pengusung Presiden Jokowi di Pilpres 2014, dan mungkin kelak di Pilpres 2019.
Dan memang secara etis, apapun alasannya tidak layak dan tidak pantas seorang Gubernur DKI Jakarta sebagai tuan rumah tidak diberikan ruang dalam seremoni tersebut. Apalagi Tim Persija Jakarta sukses sebagai juara dalam kompetisi ini. Tidak menjadi juara pun seharusnya Gubernur Anies patut diundang meskipun hanya sekadar mendampingi Bapak Presiden yang terhormat.

Dari insiden ini kita pun dapat merasakan adanya aroma politik yang begitu kental. Dengan demikian, persaingan meraih dan berdiri di atas podium sedapat mungkin akan dimanfaatkan oleh Jokowi ataupun orang-orang terdekatnya untuk terus mengatrol popularitas Sang Presiden, meskipun hal itu tidak akan pernah menaikkan kualitas Jokowi itu sendiri. Akan tetapi, sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh Jokowi atau orang-orang terdekatnya, maka secara signifikan akan menjatuhkan popularitas Jokowi, meskipun lagi-lagi pencitraan apapun itu bentuknya tidak akan meningkatkan kualitas seseorang.

Tetapi yang paling menarik di sini, dari insiden pengadangan Paspampres kepada Anies adalah bahwa Pak Gubernur hanya terkejut sebentar saja. Tidak ada rasa marah, kesal, dan kecewa berat dalam menanggapi insiden itu. Bahkan sesudah itu Anies ketawa-ketawa sambil berkata bahwa semula tadi disuruh untuk turun.

Di sinilah rakyat Indonesia dapat melihat dan membandingkan sisi-sisi kualitas akan figur Jokowi dan Anies secara komprehensif. Secara objektif Anies akan memiliki timbangan kualitas lebih berat daripada Jokowi. Salah satu dari kualitas itu dapat dilihat dari kecerdasan emosional Anies yang membijaksanai insiden tersebut. Belum lagi jika ditinjau dari kecerdasan intelektual yang mana Anies telah melalui semua jenjang pendidikan formal dengan kualifikasi doktor, bahkan meraih gelar Profesor. Belum lagi pada kecerdasan spritual, atau juga kecerdasan verbal yang memperlihatkan keunggulan Anies dibanding Sang Presiden.

Kesimpulan yang dapat dipetik dari insiden di Final Piala Presiden 2018 ini adalah pertarungan popularitas Jokowi vs. kualitas Anies mutlak dimenangkan oleh Anies Baswedan meskipun Sang Gubernur tidak naik di podium juara. Hal itu tidak lain karena ternyata pada akhirnya kualitas yang dimiliki Anies mengotomatisasi dan melegitimasinya sebagai pemenang. Atau dengan perkataan lain, popularitas Jokowi tidak mampu mengalahkan kualitas yang dimiliki oleh Anies Baswedan.

*Sarmadan*, adalah Kandidat Doktor Linguistik Terapan, Pascasarjana, Universitas Negeri Jakarta.

Artikel ini telah dibaca 7 kali

badge-check

Penulis

Baca Lainnya

Potensi TOGA Untuk Meningkatkan Imunitas Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Kelurahan Puuwatu, Kota Kendari

16 Januari 2022 - 18:32 WITA

Nasib Perempuan Akibat Pernikahan Dini

8 Januari 2022 - 19:19 WITA

SKT, SPPT atau PBB Bukan Bukti Kepemilikan Hak Tanah

12 Oktober 2021 - 08:55 WITA

KKN dalam Perspektif Hukum Pidana

5 September 2021 - 15:32 WITA

Sulitnya Palestina Berdaulat

21 Mei 2021 - 10:04 WITA

24 Tahun Permasalahan Ganti Rugi Lahan Bandara Maranggo Tomia, Berikut Kisahnya

21 Mei 2021 - 01:01 WITA

Trending di Opini
error: Content is protected !!