SULSEL_SULTRAKITA.COM, WATAMPONE — Aksi tak terpuji dua warga disalah satu pemukiman di Kelurahan Bukaka Kecamatan Tanete Riattang Kabupaten Bone bikin geleng-geleng kepala.
Meski sudah ditegur berkali-kali bahkan dimediasi oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH), kedua warga ini terus membakar sampah di dekat rumah warga, hingga menyebabkan asap tebal yang mengganggu pernapasan.
Warga berinisial WD, yang merasa dirugikan karena rumahnya terdampak asap dan bau menyengat dari aktivitas pembakaran tersebut, mengaku sudah melapor ke berbagai pihak. Mulai dari Kepala Lingkungan, Lurah, hingga DLH, namun upaya tersebut belum membuahkan hasil jangka panjang.
Dua warga yang diduga sebagai pelaku pembakaran adalah AC, pemilik lahan yang bersebelahan dengan rumah WD, dan MA, tetangga dekat AC yang kerap dipercaya membersihkan lahan tersebut. MA diketahui sering membakar sampah di atas tanah milik AC dengan alasan suruhan pemiliknya.
WD mengatakan dirinya sudah beberapa kali menyampaikan keluhan kepada AC dan MA terkait asap pembakaran yang kerap mengganggu. Bahkan, pembakaran dilakukan hingga dua sampai tiga kali sehari.
“Saya sudah laporkan ke kepala lingkungan, lalu ke lurah, dan akhirnya ke DLH. Waktu itu DLH sempat turun tangan dan memediasi, mereka juga minta supaya pembakaran di lokasi itu dihentikan,” ujar WD.
Namun, setelah beberapa waktu berhenti, kegiatan pembakaran itu kembali terjadi di tempat yang sama. Bahkan menurut WD, pada Kamis (8/8) MA kembali terlihat membakar sampah di lokasi yang sebelumnya sudah dilarang.
“Saya baru pulang dari Libureng, dan langsung kaget saat melihat MA kembali membakar sampah. Saya langsung mengadu ke kepling karena khawatir kejadian ini akan terus terulang. Tetangga depan rumah saya bahkan mengira ada kebakaran karena asapnya sangat tebal,” keluh WD.
Menariknya, AC pernah mengklaim bahwa pembakaran itu dilakukan oleh suami MA yang mengalami gangguan kejiwaan. Namun menurut WD, dirinya menyaksikan langsung AC dan MA membakar sampah bersama-sama.
“Kadang yang dibakar bukan hanya sampah biasa, tapi juga daun pisang segar yang masih hijau. Bahkan sampah dari belakang tanahnya beruap batang pohon besar mereka bawa ke depan untuk dibakar, padahal bisa dibuang atau dikelola dengan cara yang lebih ramah lingkungan,” jelas WD.
Ketika dikonfirmasi, AC mengaku tidak mengetahui ada aktivitas pembakaran.
“Oh dewisenngi, saya baru tiba di rumah, siapa yang membakar dan dimana? Kalau memang di tempat yang dulu, nanti saya tegur,” kata AC singkat.
Sementara itu, MA yang sempat ditegur oleh WD pada sore harinya, justru mengklaim bahwa yang ia bakar hanya daun mangga milik WD yang jatuh ke lahan AC Namun WD menyanggah, karena yang terlihat dibakar bukan hanya daun, tapi juga batang dan tanaman lainnya.
“Saya bersedia membersihkan daun mangga saya sendiri kalau memang jatuh ke lahan mereka,” ucap WD.
Selain soal pembakaran, AC juga diketahui memiliki pohon beringin besar di tanahnya bagian belakang yang pernah merusak dua rumah tetangga. Namun AC disebut tak pernah menanggapi keluhan warga.
“Karena tak ada tindakan dari AC, akhirnya warga yang rumahnya rusak harus memperbaiki dengan biaya sendiri, lalu tidak Lama kemudian patungan agar pohon itu ditebang, karena khawatir bisa menyebabkan korban jiwa jika terus dibiarkan,” ujar salah satu warga.
Warga berharap instansi terkait bisa mengambil langkah tegas terhadap perilaku yang membahayakan lingkungan dan kesehatan ini. Mereka juga meminta kesadaran dari para pelaku untuk tidak seenaknya membakar sampah di lingkungan padat penduduk.
“Ini bukan soal pribadi, tapi demi kenyamanan dan keselamatan bersama,” tutup WD. (Red)






